Wednesday, June 23, 2021

Danau Toba, Bagaimana Kristian Masuk Tanah Batak?

 

Danau Toba dilihat dari atas..

Catatan Perjalanan: Menyusuri 150 Tahun Kristian Masuk Tanah Batak (siri 2)

Indokini: Danau Toba, Bagaimana Kristian Masuk Tanah Batak?

VAN atau bas yang ku tumpangi setelah naik bukit, turun bukit, sampai ke suatu tempat yang bagaikan teluk di pinggir laut. Suasana dingin mulai menggigit tubuh. Bas ku terus menuruni menuju bandar di situ. Itulah kota Parapat pintu masuk ke Danau Toba. Hanya ada sebuah masjid di situ, dan sebuah musalla di pinggiran pantai.

Masjid di kota Parapat.. satu-satunya..

Dua orang menjadi teman bicaraku semasa dalam bas tersebut. Seorang anak gadis Batak Prapat baru pulang bercuti dari USU atau Universitas Sumatera Utara, yang sangat berbangga kerana kahadiranku untuk menyelidiki kaum mereka. Seorang lagi yang membawa anak isterinya, menjemput terus aku ke rumahnya di Tomok dalam Pulau Samosir, tempat yang aku akan lawati itu.

"Kalau bapak ingin menjadi warga kami pun bisa." Kata kepala keluarga teman bicara itu setelah lama bercerita sambil menjemput aku ke rumahnya.

"Apa betul pak?" Aku tanya.

"Ya! Kami akan buat majlis dan pengisytiharan penabalan tuan sebagai marga kami.." Katanya gembira.

Pelabuhan, tempat berangkat ke Tomok (Pulau Samosir) dari Parapat. 
Menariknya di sebelah pelabuhan itu anak-anak sedang mencuci pakaian menggunakan air danau itu (gambar bawah).
Kanan sekali, Ibnu Hasyim sedang menunggu di pelabuhan...

Begini ceritanya bila kugabungkan keseluruhan catatan mengenai kemasukan agama Kristian ke tanah Batak, versi dua teman bicaraku dalam bas itu..

Menurut mereka, salah satu kisah menarik terjadi pada perjalanan hidup seorang bernama Nommensen pada September 1864, sebagai punca lajunya kemasukan Kristian di Tanah Batak. Waktu itu, Nommensen mahu dipersembahkan ke sombaon (roh alam) Siatas Barita di Onan Sitahuru. 

Ribuan orang datang ke sana ingin menyaksikan peristiwa itu. Dia akan dibunuh menjadi korban persembahan kepada sombaon. Tapi, Nommensen tetap tegar menghadapi tentangan dan cabaran dari orang Batak yang menolak misinya.

Sebelum korban dipersembahakan, hamba Tuhan itu berdoa. Tiba-tiba berembus angin puting beliung dan hujan deras membubarkan massa. Nommensen selamat dari bahaya maut.

"Sejak itu terbuka jalan akan firman Tuhan di Tanah Batak. Karena itu, Nommensen pantas dijuluki sebagai apostel di Tanah Batak." Jelas gadis Batak itu teman bicaraku.

Menurut teman bicaraku yang seorang lagi, dalam sepucuk surat yang dikirimkan ke lembaga zending Rheinische Mission Gesselschaft (RMG) Barmen, Jerman, Nommensen juga menulis suatu penglihatannya dalam iman tentang hari depan orang Batak yang dilayaninya.

"Dalam roh saya melihat di mana-mana jemaat-jemaat Kristen, sekolah-sekolah dan kelompok orang Batak tua dan muda yang berjalan ke gereja-gereja. Di setiap penjuru saya mendengar bunyi lonceng gereja yang memanggil orang-orang beriman datang ke rumah Allah. Saya melihat pendeta-pendeta dan guru-guru orang pribumi Sumatera berdiri di panggung-panggung dan di atas mimbar-mimbar, menunjukkan cara hidup Kristen kepada yang muda mahupun yang tua.

"Anda mengatakan, saya seorang pemimpi tetapi saya berkata: Tidak, saya tidak bermimpi. Iman saya melihat ini semua. Hal ini akan terjadi karena seluruh kerajaan akan menjadi milikNya dan setiap lidah akan mengetahui bahwa Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.

"Karena itu, saya merasa gembira walaupun rakyat mungkin menentang firman Allah. Yang mereka lakukan tepat seperti mudahnya mereka mencegah firman Allah dari hati mereka. Hari sudah mulai terbit. Segera cahaya terang akan menembus. Kemudian Matahari Kebenaran dalam segala kemulianNya akan bersinar atas seluruh tepi langit tanah Batak dari selatan sampai ke pantai-pantai danau Toba."

Berbagai sumber menyebutkan, penglihatan tersebut diperoleh Nommensen ketika berdoa di gunung Siatas Barita, Tarutung, objek wisata (perlancungan) rohani Salib Kasih sekarang. Pada Oktober 1861, IL Nommensen mendapat cabaran baru sebagai misionar ke Tanah Batak. 

Sebelum berangkat, dia belajar bahasa Batak dan budaya Batak dari Dr Van Der Tuuk di Belanda selama dua bulan. Desember 1861, Nommensen berangkat dari Amsterdam menuju Sumatera dengan kapal Pertinar.

Pelayaran perlu waktu 142 hari. Kapal yang ditumpanginya mendarat di Padang, Mei 1862 setelah mengalami banyak cubaan ddalam perjalanan laut. Lima bulan kemudian, Nommensen melakukan perjalanan ke daerah pedalaman. Dari sana dia pindah ke Sipirok dan mendirikan sebuah sekolah. 

November 1863, dia masuk ke daerah Silindung. Dia berhadapan dengan sifat permusuhan dari raja-raja Batak. Kerana sudah paham sifat orang Batak, lambat laun dia dapat juga beradaptasi dengan tokoh-tokoh Batak. Dengan pola hidup sederhana ditopang sifat penyangkalan diri, ketekunan dan keahliannya di bidang pengubatan membuat Nommensen akhirnya diterima di tengah-tengah etnik Batak. 

Untuk merealisasikan cita-citanya, dia mendirikan huta Dame (kampung Pardamean) dengan sebuah gereja sederhana, sekolah dan beberapa rumah. Baru Julai 1864, dia membangun rumahnya yang sangat sederhana di Saitnihuta, Tarutung melalui perjuangan yang berat.

Akhir Julai 1864, Nommensen menempuh langkah berani menjumpai Raja Panggalamei ke Pintubosi, Lobupining. Padahal, Raja Panggalamei adalah provokator atas pembantaian pendeta Hendry Lyman dan Samuel Munson. Kedua misionar ini diutus zending Gereja Baptis dari Amerika Syarikat di Sisangkak, Lobupining tahun 1834 bertepatan dengan hari lahir IL Nommensen. 

Pada 16 Mac 1866, IL Nommensen/Karoline diberkati menjadi suami-isteri di Sibolga. Karoline datang dari Jerman beserta rombongan Pdt Johansen yang dikirim kongsi Barmen untuk membantu IL Nommensen di Silindung.
Tahun 1864, Karoline melahirkan anak pertama diberi nama Benoni namun beberapa hari kemudian meninggal dunia. Tahun 1872, Pargodungan Saitnihuta yang disebut Huta Dame pindah ke Pearaja. Tahun 1873, sekolah berpindah-pindah diciptakan Nommensen agar orang Batak dapat lebih cepat menjadi guru. 

Siswa mendatangi Nommensen di Pearaja, Johansen di Pansurnapitu dan Mohri di Sipoholon di mana para misionar tersebut bertugas. Atau misionar yang mendatangi siswanya di tempat tertentu. Tahun 1875, misionar Nommensen bersama Johansen dan Simoneit bekunjung ke Toba.

Tahun 1876, telah dibaptis lebih dari 7,000 orang di Silindung. Tahun itu juga Nommensen selesai menterjemahkan Perjanjian Baru ke dalam Bahasa Batak Toba. 

Tahun 1877, Nommensen dan Johansen mendirikan sekolah guru zending di Pansurnapitu. Lokasi ini dulunya dikenal sebagai parsombaonan (tempat angker). Kini berdiri gereja HKBP di Pansurnapitu. Kerana pengaruh para misonar semakin luas di Tanah Batak, Raja Sisingamangaraja XII marah besar sehingga mengancam akan membumihanguskan kegiatan misioner.

Tapi, ancaman sang raja tidak menjadi kenyataan. Tahun 1878, Silindung masuk kolonisasi Belanda. Dua tahun kemudian, Nommensen beserta isteri dan anak-anaknya diungsikan dari Silindung dengan jalan kaki selama dua hari ke Sibolga untuk kembali ke Eropah. 

Tahun 1881, menjelang Natal, Nommensen kembali dari Jerman ke Pearaja tanpa didampingi isteri dan anak-anaknya. Tahun itu pula, kongsi Barmen menetapkan IL Nommensen menjadi ephorus pertama HKBP (Huria Kristen Batak Protestan- Jubileum 150 tahun) dan digelari 'Ompu i'.

Insya Allah, perjalanan ini akan diteruskan.



Ibnu Hasyim
alamat: ibnuhasyim@gmail.com
5 Ogos 11
Parapat, Toba.



No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails