Thursday, July 16, 2015

Cocos Island, Pulau Islam Tetapi Milik Australia.

 Pulu Cocos

CATATAN SANTAI IBNU HASYIM 
Berkerja di Australia..

Salah satu masjid di Pulau Cocos.

Selengkar Kisah Melayu Cocos

ORANG Melayu Cocos merupakan komuniti masyarakat yang membentuk kumpulan etnik terbesar menetap di Kepulauan Cocos atau Keeling, kini menjadi sebahagian daripada wilayah milik Australia

Orang Melayu Cocos berasal dari keturunan peneroka Melayu dari bekas negeri tanah jajahan British seperti British Malaya  (kini Malaysia), Singapura,  Brunei dan Kepulauan Riau (dahulunya dibawah pemerintahan Hindia Timur Belanda). (Lihat , The World Factbook, CIA. Dicapai pada 14 April 2009.)

Pada asalnya Pulau Cocos tidak dihuni oleh manusia sehinggalah masyarakat Melayu membentuk komuniti utama di sana. Golongan Melayu perintis yang dipercayai pertama kali tiba dan menetap di Kepulauan Cocos adalah dari kalangan harem dan hamba abdi. Mereka dibawa masuk oleh Alexander Hare, petualang Inggeris pada tahun 1826. 

Pada tahun 1827 John Clunies-Ross menukar kehidupan para penduduk Melayu ketika beliau tinggal di Kepulauan Cocos bersama dengan keluarganya. Terdapat orang Melayu yang sejumlah besarnya berasal dari Tanah Melayu bekerja dengan Clunies-Ross untuk membantunya menanam pokok kelapa dan menuai hasil kelapa. 

Pada bulan September 1978, keluarga Clunies-Ross telah menjual Kepulauan Cocos kepada kerajaan Australia. Sejak itu, Ketua Negara ialah Ratu Elizabeth II, diwakili oleh Penyelia Gabenor Jeneral pada masa itu B.Cunningham. Ketua Dewan Kepulauan Haji Wahin Bynie.

Orang Melayu Cocos mempunyai kod pakaian mereka sendiri. Baju kurung untuk wanita dan Baju Melayu untuk lelaki. 'Baju Kurung' terdiri daripada tunik longgar (merujuk pada kerah baju panjang dengan kerah pendek yang ditempelkan bersama-sama dengan bros) dan dikenakan di atas skirt atau sarung. 'Baju Melayu' adalah baju longgar (kerah dengan tiga atau lebih kancing atau kerah dengan garis leher).

Orang Melayu Cocos mempunyai loghat mereka tersendiri, Bahasa Melayu Cocos atau Basa Pulu Kokos. Ia dianggap kasar dan tidak canggih kerana kegunaan slanga dalamnya dan tetap berubah pada maksud perkataan. Bahasa ini merupakan campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu dengan sebutan tempatan dan bahasa Inggeris bercampur-aduk. Bahasa Inggeris pula merupakan bahasa pentadbiran dan de facto.

Secara teritorial, Kepulauan Cocos masuk wilayah Australia, tepatnya Australia bahagian utara. Lantas, apa istimewanya pulau ini? Salah satunya adalah penduduk yang mayoriti Muslim.  Pulau Islam, tetapi di bawah Australia.



Pulau Islam Di Bawah Australia.

Sensus 2005 menunjukkan, penduduk kepulauan ini tak lebih dari 1,000 orang. Berbeda dengan kebanyakan penduduk Benua Australia, penduduk Cocos bukanlah orang kulit putih.  

Menurut Laman www.britanica.com menulis, suku bangsa Melayu datang ke Kepulauan Cocos pada 1827-1831. Mereka dibawa oleh seorang pengusaha kelapa sawit berkebangsaan Skotland bernama John Clunies Ross. Garis keturunan Melayu penduduk Cocos ini terlihat jelas dari bentuk fizik dan dialek mereka yang sangat khas Melayu.

Agama mereka pun seperti yang dipeluk mayoriti masyarakat Melayu, yakni Islam.  Selain mereka yang berdarah Melayu, ada pula beberapa yang merupakan keturunan Cina, India, dan Papua. Bahkan, beberapa sumber sejarah menyebut, para pendatang pertama Kepulauan Cocos ada yang berasal dari Bali, Bima, Madura, Sumbawa, Timor, Batavia (Jakarta dulu), juga Cirebon.

Masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang etnik ini sudah hidup bersama selama lapan generasi. Mereka tak pindah ke mana-mana kerana lokasi Kepulauan Cocos yang sangat terisolasi. Meski sederhana, secara ekonomi mereka berdiri sendiri. Mereka pun dikenal setia pada sanak saudara, setia pada Islam, juga setia pada budaya nenek moyang mereka.

Selain orang-orang keturunan Melayu, menurut laman www.world map.org, Kepulauan Cocos juga dihuni kaum pendatang meski jumlahnya tidak banyak. Mereka umumnya sudah mengikuti tradisi dan mempraktikkan budaya Kepulauan Cocos. Mereka setia menjalankan tradisi dari daerah asal. Mereka mendirikan masjid, melantik pemimpin, dan menentukan perayaan-perayaan adat. 

Hari perayaan Melayu Pulau Cocos.

Hingga saat ini pun, perayaan-perayaan ala Melayu masih rutin diselenggarakan. Sebut saja, misalnya pemberkatan rumah, perayaan selamat datang, perpisahan, pemberkatan kapal, dan berdoa untuk sanak saudara yang meninggal. Perayaan terbesar bagi masyarakat Muslim Kepulauan Cocos adalah perayaan Idul Fitri.

Pada perayaan selepas melaksanakan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ini, dihidangkan berbagai makanan, tarian, juga muzik. Yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Melayu Cocos adalah kepatuhan dan ketaatan pada Islam. Saat ini, sekitar 80 persen warga Kepulauan Cocos adalah Muslim Sunni.

Majoriti Muslim ini menetap di salah satu pulau dalam gugus Kepulauan Cocos, iaitu Pulau Salma. Pola hidup masyarakat Muslim Cocos sangat bernuansa pedesaan. Mereka hidup secara berkelompok dalam sebuah wilayah yang mereka sebut kampung. Saat ini sebahagian besar dari mereka adalah petani yang menanam kelapa, pepaya, sayuran dan pisang.

Selain berpegang teguh pada ajaran Islam, keturunan Melayu ini dikenal pula dengan sikap mereka yang ramah dan santun. Lantaran majoriti penduduk beragama Islam, hal ini berpengaruh pada kehidupan sehari-hari di Kepulauan Cocos. Kebersihan menjadi sesuatu yang sangat penting dan bernilai. Hampir semua rumah di sini juga sangat terpelihara.

Dalam hal pergaulan, jangan harap ada pergaulan ala Barat.  Pernikahan merupakan hal yang sangat penting. Pasangan suami isteri di kepulauan ini umumnya menikah melalui perjodohan meski “perasaan” cinta di antara keduanya juga menjadi syarat yang dipertimbangkan sebelum pernikahan. 

Sebagai kepulauan “Muslim”, ada beberapa hal yang harus dipatuhi oleh pendatang yang ingin mengunjungi Cocos. Mereka perlu mengenakan pakaian sopan, yakni menutup bahagian pundak hingga lutut. Pendatang juga harus melepas alas kaki saat akan memasuki rumah dan masjid. Menggunakan tangan kiri saat makan, memberi dan menerima sesuatu dianggap perbuatan yang tidak sopan. 

Disarankan menggunakan tangan kanan saat melakukan segala hal, terlebih saat berjabat tangan dengan orang lain. Aturan lain yang juga harus dipahami pendatang adalah tidak menyentuh bahagian kepala seseorang. Perbuatan seperti ini dianggap tidak menghargai orang lain. 

Ketika bertamu, jangan sekali pun mengetuk pintu depan rumah. Sebab, menurut adat istiadat setempat, hal itu juga tergolong perbuatan tidak sopan. Jadi, saat bertandang ke rumah orang lain, tamu diharuskan masuk melalui pintu belakang, kecuali pintu depan terbuka.

Persekolahan, Bagaimana?

Seperti diungkap laman www.australian.com.au, sekolah-sekolah di kepulauan ini dioperasikan oleh Jabatan Pendidikan Australia Barat. Di tiap-tiap sekolah, disediakan ruang sholat permanen bagi pelajar. Di antara 27 pulau di Kepulauan Cocos, hanya dua pulau yang dihuni, iaitu Pulau Salma (Home Island) dan Pulau Panjang (West Island).

Di Pulau Salma yang menjadi rumah bagi sekitar 450 Muslim, peredaran minuman beralkohol dilarang. Di pulau ini, sebuah tempat kumpul berfungsi juga sebagai tempat pertemuan warga. Lain lagi dengan Pulau Panjang yang menjadi rumah bagi 150 Muslim. Di sini, tempat kumpulnya adalah sebuah pub.

Selain tak ada distribusi minuman beralkohol, toko-toko di Pulau Salma juga dilarang menjual daging babi. Toko-toko ini biasanya dimiliki oleh warga keturunan Melayu. Dibanding masyarakat di wilayah Australia lainnya, penduduk Melayu di Kepulauan Cocos menjadi komuniti contoh. Ubat-ubat dilarang sangat jarang ditemukan. Tingkat kehadiran pelajar di sekolah dasar dan menengah mencapai 93 persen lebih.
Bahkan, sejumlah pengamat memuji komunitas Melayu Muslim di Cocos sebagai orang-orang yang religius, beretika dan bermoral tinggi, serta kuat memegang norma yang mereka yakini. 

Lambang Cocos Islands. Terdapat tulisan berbahasa Indonesia “Maju Pulau Kita”. 
Side view of house. At the far left is the original house front. The satellite dish and water tank are beside the kitchen and ablution block respectively. Silver car and two four-wheelers



Melayu Cocos 30 Tahun Ditipu Australia?
Apabila masyarakat Pulau Kokos yang kecil mengundi pada tahun 1984 untuk menjadi sebahagian dari Australia, warga Melayu Kokos di janjikan bahawa mereka akan menentukan nasib mereka dan mengawal tanah mereka sendiri.

Tetapi hampir 30 tahun berlalu, bukannya menjadi masyarakat makmur dan bersatu, sebaliknya mereka dinafikan masa depan atas pulau mereka sendiri. Brian Thomson bertemu dengan Australia kulit putih yang mengawal Cocos, dan Melayu Kokos yang bergelut mendapatkan pekerjaan dan membentuk apa apa kareer.

Bersama beliau, adalah Dick Whittington, yang kali pertama melawat setelah menjadi penasihat terhadap penyatuan itu. Beliau terkejut dengan jurang budaya antara kulit putih di West Island (Pulau Barat) dan Melayu Kokos di Home Island (Pulau Utama/Rumah)

Jadi kenapa pulau-pulau ini menjauh sesama sendiri? Bagaimana kita boleh mengubah apa yang sepatutnya menjadi syurga di Laut India?

MHaffiezMNazri
04-11-2012, 11:59 PM)
Siapa diantara kita yang pernah mendengar Kepulauan Cocos atau Cocos (Keeling) Islands? Sebulan lalu mungkin sedikit sekali, namun kini mungkin sudah agak sedikit terkenal, terutama setelah ada kabar bahwa Amerika Serikat akan membangun pangkalan pesawat tanpa awak di Kepulauan Cocos (Keeling). Tapi tentu kita tidak membahas itu.

10 Responses To “Mengenal Lebih Dekat Kepulauan Cocos (Keeling) Sebagai 'Darah Daging Indonesia'”
  • Kalau benar Australia melarang bahasa melayu di kepulauan kokos, satu kata buat mereka “terlalu”. Bisa dikategorikan pelanggaran HAM. Kalau perlu kepulauan kokos kita masukkan sebagai wilayah Indonesia, karena masih ada hubungan histori dengan Indonesia dari pada dengan Srilangka yang konon pernah mengklaim sebagai bagian wilayahnya.yang kemudian direbut Inggris dan terakhir Austr
  • Penjelajah Google
  • alia. Dahulu kala pulau itu sebagai peristirahatan sementara para nelayan nusantara. Mau menetap di wilayah itu agak serem juga karena tingginya cuma 5 m dpl, kalau ada sunami bisa berabe urusan.
  • Sangat ingin sekali berkunjung kesana.
    Semoga nanti punya kesempatan untuk itu.

  • Wah, ini catatan terkomplit yang aku baca mengenai pulau Cocos. Terima kasih untuk penulis yang telah mempublikasikannya.

  • Saya sangat tertarik sekali dengan keberadaan Pulau Cocos (Keeling) ini. Sementara saya hanya bisa memperoleh informasi dari Wikipedia, namun masih belum bisa memenuhi rasa ingin tahu Saya akan pulau ini.
    Saya benar2 ingin mengunjungi pulau ini, saya sudah mencoba mencari tahu maskapai apa yg terbang ke sana. Virgin Australia terbang dari Perth – Christmast Island – Cocos (Keeling) Island. Dengan biaya +/- 6 jutaan sekali jalan (belum termasuk ongkos dr Jakarta). Saya juga sudah coba mencari tempat penginapan melalui situs Agoda.
    Seandainya saja ada maskapai Indonesia yg terbang ke sana pasti menyenangkan sekali. Bayangkan jarak dr Jakarta (Pulau Jawa) hanya 1000 km, sementara jarak dari Australia 2800 km.
    Satu lagi, Saya belum mengetahui apakah jika mengunjungi pulau ini kita menggunakan visa? apakah keadaan di sana aman bagi orang Indonesia? mengingat akan dibangunnya pangkalan udara AS untuk memantau Indonesia (katanya, hehehe…)
    Untuk rekan-rekan yang membaca artikel ini, siapa tau ada yg berminat mengunjungi pulau tersebut, ‘backpacker’ atau ‘koper’ tidak jd masalah. Saya bukannya tidak berani mengunjungi pulau tersebut sendiri, hanya saja jika ada teman/kelompok akan lebih menyenangkan (terlebih karena kemampuan bahasa Inggris Saya yang masih ‘alakadarnya’, hehehe…)
    siap-siap menabung…
    siap-siap cuti…
    Cocos (Keeling) Island, I’ll be there.
Islands: Negeri Selat yang Dilupakan... Posted by Imran Azwan bin Azizan at 7:00 AM  (Ke Cocoseling)

"Dalam buku sejarah yang budak-budak tingkatan 2 dok baca sekarang, hanya diberitahu 3 Negeri-negeri Selat. Dalam buku sejarah Malaysia silibus lama, terdapat 4 Negeri-negeri Selat. Sebagai orang yang mencintai Sejarah, saya berpendapat, Buku teks sejarah yang digunapakai untuk pendidikan di Malaysia sangat samar dan memberikan persepsi yang mengelirukan tentang sejarah. 

Buku sejarah tidak pernah secara tegas menyatakan ada 3 negeri Selat sahaja, tetapi, menyebabkan orang berfikir sedemikian rupa. Selama 2 tahun, saya mempercayai bahawa hanya terdapat 3 negeri Selat. Apabila saya memasuki Menengah Atas, saya mendapati bahawa Daerah Dinding di Perak juga pernah menjadi negeri Selat, walaupun ramai yang tidak menyedari hal tersebut. 5 tahun berikutnya, saya menjumpai fakta baru. 

Sebenarnya, jumlah negeri-negeri Selat adalah 7 buah. Saya tak tahu kalau sebenarnya ia lebih dari itu. Tetapi, setakat ini saya dapat memastikan ada 7 buah negeri Selat. Selain Singapura, Melaka, Pulau Pinang, dan Dinding, Labuan juga pernah menjadi negeri Selat. 2 yang berikutnya adalah Pulau Cocos (Keeling), dan Pulau Christmas."  Copy and WIN : http://ow.ly/KNICZ

Sekian.

Insya Allah! Akan bersambung pula ke Kampung Melayu Islam, disebuah pekan kecil Katanning terletak lebih kurang 270km dari Perth. 

Asalnya dahulu mereka terlibat dalam aktiviti halal meat (penyembelihan lembu & kambing untuk di eksport). Dan kerana ramainya komuniti Melayu Islam, maka sebuah masjid telah dibina di situ.

  
Ibnu Hasyim
Alamat: ibnuhasyim@gmail.com        
16 Julai 2015 KL 


Video

3 comments:

inez elodhia maharani said...

informasi ini sangat lengkap yah! terimakasih admin. Saya mau backpacker pergi ke pulau cocos. Dari jakarta, bagaimana caranya yah? tidak terlalu jauh dari pulau Jawa..sungguh mengagumkan!
Ada yang mau bareng?
backpackeran .

azharscada Zainalabidin said...

inez berminat?? gmana kita boleh berhubung?? boleh email saya : azhar.zainal@tnb.com.my

Soleh Kindys said...

Ago bro bgmn carany ksana??085641641696 WA ya.. at ngebet bgt ksana

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails