Thursday, June 09, 2011

Delhi, Kota Moden Yang Primitif. Mengapa?

BANYAK jalan yang boleh dilalui untuk ulang-alik dari Apartemen Azad ke Sancharlok, antara dua kawasan perumahan di timur Delhi. Perlu seberangi lalu-lintas jalan utama yang sibuk.

Tetapi bagi wanita ini, ada hal yang lebih besar lagi perlu dilaluinya. Dia perlu jadi seorang yang ada nama lain, selain dari nama asalnya. Untuk melalui jalan kehidupannya

Dia dipanggil sebagai Salma ketika bekerja di suatu rumah. Namun kemudian ‘menjelma’ sebagai Seema ketika bekerja di rumah yang lain.

“Ketika saya baru datang di Delhi, saya dibuang kerja beberapa kali kerana nama saya. Kemudian saya memutuskan untuk hidup dengan dua identiti.." ujar Salma, yang menolak untuk diambil nama lengkap atau fotonya.

“Sekarang saya dilihat seperti Hindu untuk majikan Hindu dan sebagai umat Islam bagi majikan Muslim.”

Ganti identiti itu adalah satu-satunya jaminan untuk dapatkan layanan adil di sebuah kota yang masih memiliki prasangka primitif dengan ambisi kosmopolitan. “Tidak ada pilihan, kerana saya memiliki empat anak, untuk diberi makan,” kata Salma.

Dia bekerja sebagai pembantu rumah ditemui ketika menunggu di stesyen halte bas. Dia memakai nama Seema, semasa menjemput anak majikannya, yang ibunya sendiri sibuk bekerja. Dia harap ‘permainan nama’ ini, biarlah hanya dia sendiri mengalaminya. Untuk nama anak-anaknya Salma beri nama ‘lebih sederhana’. Iaitu Prince, Beauty, Fairy dan Bobby. Salma adalah wanita yang sangat berdiplomasi. Meski ia seorang muslimah, ia juga dapat melafazkan kisah Kalisa Hanoman.

Suami Salma, Mohammad Razzak adalah seorang penarik beca. Sejak awal ia telah menolak cara melakukan kompromi seperti isterinya. Kerana itu Salma menganggap, itulah penyebab mengapa hingga kini suaminya masih menganggur.

“Dia hilang kerja di sebuah toko kerana namanya. Saya minta dia untuk mengatakan, namanya adalah Vijay (nama bukan Islam)” kata Salma. “Tetapi ia tidak mahu. Sekarang, beban rumah tangga sebahagian besar diletakkan di atas bahu saya.“

Awal hari Salma, dimulai dengan nama Seema pada jam 8 pagi. Ia menyiapkan sarapan dan mencuci piring di rumah sebuah keluarga Punjabi di Apartemen Indraprastha. Agak siang sikit, ia menjadi Salma dan kena cepat-cepat pergi ke keluarga Haq di Apartemen Azad di mana ia akan siapkan makan tengahari. Pergantian tersebut terjadi beberapa kali dalam sehari.

“Mungkin tidak semua orang bersikap tidak adil, namun alangkah baiknya berada di sisi yang aman. Saya perlu kerja untuk menjaga supaya dapur saya tetap berasap. Beberapa keluarga Hindu di mana saya telah bekerja selama lebih dari tujuh tahun mengetahui, saya seorang Muslim, namun mereka masih mempercayai saya,“ katanya.

“Pernah sebuah keluarga setelah dua tahun kerja, tahu saya seorang Islam, mereka buang kerja saya. Tetapi setelah tiga bulan mereka panggil saya balik..." Namun Salma, tetap tidak pernah mengeluh.

“Masih lebih baik di Delhi. Di desa Bengali Barat, terdapat jalan terpisah untuk umat Islam dan Hindu.. kami tidak diizinkan untuk mengisi air dari keran yang sama,” ujarnya. "Sementara di sini telah beberapa kali boleh selesai masalah, walau identiti asli saya diketahui.”

Macam tak percaya.. Kenyataannya seorang perlu tukar nama, demi pertahankan hidup. Demi memberi makan anak-anak dan keluarga, terutama di era masyarakat modern seperti ini. Delhi, merupakan daerah perbandaran modern. Masyarakat Delhi sepatutnya lebih mampu menghargai dan bertoleransi dengan kenyataan perbedaan budaya. Bukannya terkikis hakis oleh tradisi kepercayaan dengan batas-batas kasta, yang mengerut-cerutkan menjadi sebuah kota dengan pemikiran yang primitif. (IH)

Lihat kisah-kisah sebelum ini...

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails