SELANGOR: Ada kisah menarik terjadi di Masjid Tun Abdul Aziz atau biasa disebut Masjid Bulat yang terletak di Petaling Jaya, Selangor, Malaysia. Kisah ini diceritakan langsung oleh admin Fan Page BAS yang Arrahmah kutip pada Sabtu (4/7/2015).

OKU di Masjid Bulat

Admin BAS masih ingat beberapa tahun lalu pernah di-PHK karena perusahaan melakukan pengurangan tenaga kerja secara bertahap.

Sambil menunggu diterima bekerja di perusahaan lain, admin mendaftar untuk kursus mempelajari SAP yang ketika itu baru diperkenalkan di Malaysia. Admin diarahkan untuk mengikuti pendidikan singkat itu di Petaling Jaya.

Singkat cerita, Admin sering singgah untuk shalat di Masjid Bulat yang berdekatan dengan lokasi admin kursus waktu itu, tepatnya di Seksi 14, di antara Jalan Semangat and Jalan Datuk Abdul Aziz.

Selepas membuka sepatu, orang pertama yang admin jumpai adalah seorang OKU (Orang Kurang Upaya atau bahasa Indonesianya Orang Berkebutuhan Khusus, red.) ini.

Terlintas di pikiran admin beliau mungkin peminta sedekah menunggu di ‘hotspot’ lalu-lalangnya jamaah yang keluar masuk. Mungkin lebih banyak recehan yang akan bisa dia dapat jika pandai memilih lokasi strategis.

Setelah beberapa hari admin berulang kali ke Masjid Bulat, akhirnya admin mengobrol juga dengan OKU ini. Admin pun sudah lupa siapa namanya. Beliau yang tidak dapat mengangkat tangannya hanya bisa tersenyum kepada jamaah yang hadir. Dan disebabkan sikapnya itu admin juga tidak segan untuk bertegur sapa dengan beliau.

Ketika sedang ngobrol, ada juga beberapa orang jamaah yang datang dan keluar lalu menyapa OKU. Ini tandanya beliau memang sudah dikenali di Masjid Bulat.
Masjid Bulat, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia
Masjid Bulat, Petaling Jaya, Selangor, Malaysia.
Beliau sempat menunjukkan ‘rumah’ beliau di bawah tangga saat admin bertanya beliau tinggal di mana. Admin menjenguk ke dalam rumahnya itu, yang menurut admin sebenarnya itu mungkin ruang kosong yang dibuat untuk meletakan barang seperti toko kecil. Dalam hati admin terbersit, “Kasihannya.”

Pernah sekali admin datang agak terlambat dan shalat berjamaah sudah dimulai. Seperti biasa admin membuka sepatu dan menyapa orang pertama yang admin jumpai yaitu OKU ini tetapi beliau tidak menyahut. Rupa-rupanya beliau sedang bershalat di atas kursi rodanya di ujung tangga seperti di dalam gambar.Pernah sekali admin datang agak terlambat dan shalat berjamaah sudah dimulai. Seperti biasa admin membuka sepatu dan menyapa orang pertama yang admin jumpai yaitu OKU ini tetapi beliau tidak menyahut. Rupa-rupanya beliau sedang bershalat di atas kursi rodanya di ujung tangga seperti di dalam gambar.
Ikhwan OKU berkursi roda ini shalat berjama'ah di dekat tangga karena tidak mampu menikinya. (Foto: BAS)
Ikhwan OKU berkursi roda ini shalat berjama’ah di dekat tangga karena tidak mampu menikinya. (Foto: BAS)
Masaya Allah, beliau shalat. Bukan. Lebih tepatnya beliau sedang shalat berjamaah. Terasa hina diri ini apabila melihat hamba Allah yang serba kekurangan itu masih gigih melaksanakan shalat berjamaah.
Admin mendapat kabar, bahwa sebelum ini beliau mendapati musibah dan menetap di rumah abang atau abang iparnya yang berdekatan. Beliau kerap pergi-pulang ke masjid. Namun beliau memilih untuk menetap di bawah tangga masjid selepas abang/abang iparnya pindah rumah ke tempat lain.
Apa pun kisah kehidupannya sebelum itu admin serahkan kepada Allah. Yang pasti, OKU ini memilih kehidupan selepas itu untuk tinggal di bawah tangga masjid dan salah satunya mungkin kerana memudahkannya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Robbana….
Timbul keinsyafan di dalam diri admin. Terasa betapa kerdil diri ini jika dibandingkan dengan OKU ini yang lebih tabah dari admin.
Bagaimana makan minumnya? Bagaimana pakaiannya? Bagaimana beliau mencari uang? Bagaimana kehidupan berkerluarganya? Apakah beliau pernah menikah? Adakah beliau pernah merasakan bagaimana mempunyai anak? Sekarang ini bulan Ramadhan, bagaimana Idul Fitri nanti? Beliau berlebaran dengan siapa?
Pelbagai taya timbul di benak admin. Kasihan bercampur sedih. Seketika itu juga kesusahan yang admin rasakan karena di-PHK terus lenyap begitu saja.
Begitulah Allah mengajarkan hamba-Nya dengan melihat orang yang di bawahnya, sebagimana sabda Rasulullah pada hadits riwayat berikut.
“Kekasihku yakni Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam memerintah tujuh perkara padaku, (di antaranya):
1. Beliau memerintahkanku agar mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka,
2. Beliau memerintahkanku agar melihat orang yang berada di bawahku (dalam masalah harta dan dunia), juga supaya aku tidak memperhatikan orang yang berada di atasku. …” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Selama admin mengenal beliau, mengobrol dengan beliau, admin tidak pernah mendengar beliau mengeluh dengan kekurangan diri beliau. Admin bersangka mungkin beliau pernah mengeluh, tetapi mungkin itu dahulu dan mungkin sekarang beliau sudah terbiasa dengan keadaan beliau yang demikian. Beliau tidak kaya. Tetapi sebenarnya beliau kaya, sebagaimana Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam sabdakan,
“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Alhamdulillah, Allah juga mengajari kita melalui sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa jika kita diberi makan untuk hari itu, yang mana kita tidak tahu pada hari esok apa yang kita akan makan, baik kita dapat makan atau tidak dapat makan, kita adalah orang yang paling beruntung;
“Barangsiapa di antara kalian merasa aman di tempat tinggalnya, diberikan kesihatan badan, dan diberi makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dia telah memiliki dunia seluruhnya.” (HR. Tirmidzi).
Mengenangkan kisah ini admin mendapat beberapa pelajaran yang dapat kita renungkan bersama, yakni:
  1. Di-PHK bukanlah satu masalah yang besar.
  2. Kehilangan anak mungkin musibah tetapi tidak mampu mempunyai anak ujiannya lebih besar. Lihatlah orang di bawah anda.
  3. Shalat adalah tiang agama. Malulah dengan OKU ini yang “menebalkan mukanya” berdiam di tangga masjid untuk melaksanakan shalat sedangkan ada yang beralasan sudah ma’rifat (bahkan ingat Allahsaja sudah cukup, red.) untuk meninggalkan shalat.
  4. OKU ini tidak berputus asa dengan kehidupannya dan menetapkan iman dan akidahnya dengan tidak mengikuti ajaran sesat.
  5. Jangan tunggu jadi OKU baru mau mendekatkan diri kepada Allah. Mulailah dari sekarang! Tunaikanlah shalat!
Semoga admin, OKU ini dan para pembaca yang budiman Allah beri taufiq dan hidayah, serta ditetapkan iman dan akidahnya pada jalan Allah.
Ya Allah, jadikanlah tantangan dan ujian yang menimpa kami sebagai penebus dosa dan tetapkanlah kami pada agama-Mu. Kembalikanlah kami kepada agama-Mu andanya kami tersesat dari jalan-Mu. Aammiin.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya (yakni dengan taubat). Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 


Sebarkan!

Raih amal shalih, sebarkan informasi ini...
(adibahasan/arrahmah.com)