Tuesday, February 08, 2011

Persembahan Seniman Mesir Di Tengah Dataran Revolusi

HALAMAN HIBURAN

Wow...Ada Pentas Seni di Tengah Demonstran Mesir
Pentas seni di tengah demontrasi

KAHERAH 8 Feb 11: Dalam meruntuhkan kerajaan zalim, seniman-seniman juga perlu libatkan diri. Walaupun kepala boleh panas disengat terik matahari, tetapi hati tetap sejuk terhibur. Inilah yang dilakukan oleh beberapa seniman Mesir mengadakan pertunjukan di tengah-tengah massa demonstrasi di Tahrir Square yang pagi semalam memasuki minggu ketiga.

Pertunjukkan muzik tradisional Mesir mirip perayaan perkahwinan. Beberapa pendemo tampil dan menari. "Kita akan menang, Allahu Akbar!" teriak yang lain.

Di sudut lain, kelompok pendemo melakukan pertunjukan berbeda. Alat musik tunggal dimainkan perlahan. Seorang lelaki maju ke depan, membaca puisi. Di depannya, pendemo-pendemo duduk sambil makan kudapan dan teh. Seolah-olah, tidak ada kesan kekerasan terjadi di dataran luas itu minggu lalu dan Jumaat minggu sebelumnya.

Pertunjukan berjalan dengan sorak sorai. Dan di sudut lain pembahagian bekalan berupa makanan dan kudapan dilakukan. Seorang peniaga buah, menyediakan kertas A4 dekat jualannya. Meminta siapa saja menuliskan apa saja.. Jika mahu ditempekkan di gerai jualannya. "Kami mahu siapa saja yang ada di sini bahagia," ujar Ashraf Gaber. Ia kemudian berteriak: "Luahkan apa yang ada di hati kamu semua!"

Seorang tampil membaca puisi yang dicipta spontan, dengan kertas A4 itu. "Mubarak, kamu cuma kasut!" teriaknya. Yang lain, menimpali dengan puisi buatan mereka. Riuh rendah.

Menulis puisi dan hafalan merupakan tradisi Arab populer. Manifestasi kebanggaan dalam bahasa yang kaya dengan nuansa sejuta makna dan menyatukan orang dari latar belakang berbeda. Di lapangan ini, mereka menjalin kebersamaan, tanpa melihat latar belakang etnik dan agama. Ketegangan akibat pemboman gereja di Alexandria, telah pergi entah kemana.

Mendadak, seorang lelaki separuh baya naik, merebut mikrofon, dan membaca puisinya...

"Saya petani dengan seberkas gandum.
Saya beri kepada orang-orang murah hati."

Bacanya. Pemuda-pemuda bertepuk tangan. Gundukan batu, tidak jauh dari "tuan"nya.

Begitu di luar lapangan ketegangan memuncak, mereka bergegas dengan "senjatanya" itu. "Allahu Akbar! Sebentar lagi Mubarak tumbang!" teriakan itu kembali terdengar. (Weblog Ibnu Hasyim)

Lihat secara keseluruhan..
E-Buku IH-30: Ke Arah T/Tengah Yang Islamik?
E-Buku IH-30: Ke Arah T/Tengah Yang Islamik?

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails