Thursday, February 18, 2010

3 Perkara, Bermulalah Usahaniaga Remaja Aceh..

CATATAN PERJALANAN MEDAN-ACEH 6




MANGGENG, dalam kawasan Tapaktuan, Aceh.. Saya sempat ke rumah seorang kawan 'Kepala Pemuda' Manggeng, dalam Naggroe Aceh. Dia antara orang kuat kepada wakil rakyar atau ADUN (kalau di Malaysia) daerah tersebut, yang memegang potfolio pertanian, perikanan, dan perlombongan dalam pentadbiran Aceh.

"Sebelum tsunami dan perjanjian damai Helsenki dulu, kami sentiasa diburu dan terpaksa hijrah dari bumi Aceh. Ada yang hijrah ke Malaysia bersama anak-isteri, seperti wakil rakyat kami ini, dan ramai lagi sahabat-sahabat lain." kata Din Kepala Pemuda.

"Kini, bila orang kita sudah dilantik orang ramai sebagai wakil rakyat, lambang negara sudah aman, maka pihak kami telah mengubah teknik perjuangan dari menggunakan M16 berperang, berbunuh-bunuhan, kepada pembangunan dan ekonomi umat." Katanya lagi. Din membawa kami ke bebukitan melawat tempat markas mereka menggerakkan perjuangan melawan Kerajaan Indonesia dulu.

"Yang jadi masalah di sini sekarang, bagaimana kami nak berjuang menangani masalah kemiskinan rakyat, pengangguran di kalangan anak-anak muda, dan menyusun semula pembangunan? Cuba tuan-tuan beri pendapat sikit..." Dia tanya kami lagi.

Kawan saya yang sama-sama menjadi tetamu itu mengisyaratkan supaya saya bercakap dulu. Saya pun tak tahu apa nak cakap. Jadi saya mengambil peluang untuk menyambung sembang-sembang motivasi '
2 Perkara Muqaddimah Usahawan. Ole-Ole Dari Malaysia' yang lalu.

"...Hari itu, masalah begini juga dibangkitkan dalam perbincangan kami di Medan. Bagaimana nak mengalihkan minat anak muda kepada bidang keusahawanan. Dan membentangkan ciri-ciri usahawan atau wirswasta yang bertaqwa." Saya pun menghuraikan bagaimana muqaddimah menjadi usahawan. Din dan kawan-kawannya nampak berminat mendengannya.

Baru saya sebut dua perkara itu,
1.. Betulkan pengkalan tempat bertolak.
2.. Memada dengan yang ada.

Setelah nampak mereka agak faham dan berminat, saya sebutkan langkah awalnya kalau nak mulakan. Iaitu sinaraikan apa-apa modal yang ada pada mereka. Wang, harta walaupun kecil seperti basikal atau motosikal. Alat kerja, tanah, pengalaman apa, walaupun berperang di hutan belantara, kaum keluarga ada apa, jamaah, kawan, guru dan sebagainya. Semua itu modal, yang perlu disyukuri, dengan meng'kreatif'kan dan 'mengembang'nya.

Jadi tindakan lanjut susulan dari 2 perkara di atas ialah..

3..
Sinaraikan apa-apa modal yang ada pada kita.
4.. Kreatif dan kembangkan.
5.. Pilih satu dulu dan buat!

"Ya. Mari kita lontarkan ke dalam kolam perbincangan ini, apa modal yang tuan-tuan ada?"

Pelbagai idea dicurahkan membanjiri kolam bincang itu, dari yang sebesar-besarnya hingga yang sekecil-kecilnya. Antaranya mereka menyebutkan, modal berkisar sekitar 3 perkara.
i.. Kewangan
ii.. Pengalaman & kemahiran.
iii.. Hartanah milik rakyat & kerajaan Aceh.

Yang rata-rata Aceh ada, ialah modal ke (iii). Yang (i) & (ii), sesetengah atau yang banyaknya, perlu dibawa dari luar. Banyak maklumat-malklumat dasar ringkas dihamburkan. Umpamanya bumi Aceh yang ada minyak, gas, emas, batubara (arang batu), batu-batu berharga dan besi, yang besar-besar. Pertanian, seperti minyak nilam, sawit, keropok dan lain-lain. Penternakan, perikanan, perniagaan dan sebagainya. Begitu juga bidang properti atau jual beli tanah...

Setelah dihurai dan dibincangkan secara ringkas satu persatu, maka kawan saya yang menjadi tetamu bersama saya itu, mengesyorkan, "Kita tak payah lihat yang besar-besar dan jauh. Kita lihat yang ada di depan kita dan mampu kita buat sekarang..."

"Apa dia?' seseorang tanya memotong.

"Setelah melihat pembangunan yang agak pesat, dan bahan-bahan modal ke arah itu banyak, tenaga kerja yang ramai, sesuai dengan keadaan di sini saya cadangkan dibuat kilang bata..." Cadangbalasnya.

Nampaknya ramai bersetuju, walaupun banyak cadangan lain. Maka timbul persoalan berapa modal wang dan bagaimana mendapatnya? Agak panjang juga perbincangan akhirnya ditangguhkan. Akan disambung malamnya, sewaktu bertemu di rumah wakil rakyat Manggeng.

Bersambung.. Sekian.

Sila lihat juga tulisan awal saya (2007), mengenai Aceh..
Ibnu Hasyim Catatan Perjalanan
alamat e-mail: ibnuhasyim@gmail.com
Manggeng, Tapaktuan, Aceh.
Feb 13, 2010

Lampiran Tambahan Maklumat:
Kamis, 03 Maret 2005: Kapanlagi.com

Terjadi Kelangkaan Batu Bata di Wilayah Aceh

BATUBATA kini mulai langka di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar menyusul sebagian besar industri rakyat di daerah itu hancur akibat bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda sebagian besar wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), 26 Desember 2004.

Wartawan ANTARA di Kota Banda Aceh, Kamis, melaporkan sebagian besar industri batu bata (dapur batu-bata) di wilayah sentra produksi salah satu material bangunan di Aceh Besar itu kini hancur, sehingga memicu kelangkaan dan kenaikan harga mencapai antara Rp400 -450/biji dari sebelumnya berkisar Rp200 - 250/biji. Para pedagang pengecer di Kota Banda Aceh menyebutkan bahwa pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami itu mereka terpaksa mendatangkan batu batu dari beberapa wilayah di Aceh, seperti dari Kabupaten Pidie dan Bireuen. "Jadi stok batu bata yang kami jual sekarang itu berasal dari pengusaha di Pidie dan Bireuen," kata Muhammad Usman, salah seorang pedagang di Kota Banda Aceh.

Sementara itu, sejumlah desa sentra produksi batu bata di Aceh Besar seperti di Kecamatan Baitussalam, kini tidak terlihat adanya aktivitas usaha masyarakat itu pasca bencana alam.

Burhanuddin, salah seorang pengusaha industri batu-bata menyebutkan pasca bencana alam yang menghancurkan usahanya dan menewaskan beberapa pekerjanya itu belum bisa beroperasi karena selain langkanya bahan baku, juga ketidak-adaan modal kerja.

Sebelum bencana alam, pihaknya mampu memproduksi sekitar 12 juta biji batu bata setiap bulannya. "Stok batu bata yang sebelumnya masih tersisa itu kini juga sudah diterjang air bah tsunami," tambahnya.

Untuk itu, ia berharap agar pihak Pemerintah dan donator dapat meminjamkan modal kerja bagi para pengusaha batu bata, sehingga mereka bisa melakukan aktifitasnya kembali. "Satu usaha batu bata itu minimal mampu memperkejakan lebih dari 15 orang tenaga kerja," kata Burhanuddin.

Kelangkaan batu bata itu telah memicu kenaikan harga jual batako di kota yang telah porak-poranda dihantam tsunami.

Sementara itu, harga semen di Kota Banda Aceh dan sekitarnya juga dilaporkan mengalami kenaikan yang cukup drastis pasca bencana alam yakni mencapai Rp28.000 - Rp30.000/zak dari sebelumnya berkisar Rp22.500 - Rp23.500/zak.

Kenaikan harga semen di daerah itu diperkirakan juga dipicu karena sebuah perusahaan pengolah semen yakni PT Semen Andalas Indonesia (SAI) tidak berproduksi karena perusahaan tersebut juga hancur akibat bencana alam, akhir tahun 2004.

Catatan perjalanan sebelum ini...

No comments:

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails