Sunday, September 30, 2012

Forum Peduli Aceh, Perjuangan Islam DiTipu Lagi?

Tgk. Daud Beureueh


CATATAN SANTAI IBNU HASYIM

SAYA berpeluang lagi bersama  masyarakat Aceh Malaysia. Saya dijemput memberi pandangan dalam forum kecil-kecilan 'Peduli Aceh' yang dihadiri oleh pemimpin-pemimpin kecil tempatan di Selangor bebeapa hari lalu.

"Kita sebut 'bangsa Aceh', bukan perjuangan kita perkauman." Ucap salah seorang dari mereka. "Sama seperti Malaysia, sebut Melayu automatik, Melayu itu Islam. Begitu juga Aceh!"

"Kita mahu perjuangan Aceh dan Indonesia seluruhnya bangkit selari dengan kehendak Islam, bahkan perlu dinamo pengecainya adalah Islam. Sejarah gemilang Aceh membuktikan berbagai bangsa hidup rukun damai di Aceh di bawah payung kesultanan Islam. 

"Hingga sekarang, ada rakyat Aceh mirip rupa bangsa India, Arab, Cina, Eropah, di samping ramai kaum pribumi. Pernah Aceh menguasai dunia perniagaan Asia Tenggara, di samping juga kuasa poitik. Kita ingin kembali ke zaman itu." Jelas beliau lagi.


Hal ini mengingatkan saya kepada sebuah buku yang pernah tersebar di Malaysia puluhan tahun lalu berjudul 'Teungku Tjhik Muhammad Dawud Di Beureueh, Mujahid Teragung di Nusantaraditerbitkan oleh Gerakan Perjuangan dan Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, tahun 1987. Ditulis oleh S.S Djuangga Batubara. Saya tak kenal penulis itu pun, walaupun saya tertarik dengan pandangannya.

Buku ini mengisahkan, kisah perjuangan Islam Teungku Tjhik Muhammad Dawud, di Beureueh Aceh. Seperti juga yang dinukilkan oleh menantu beliau M. Nur el-Ibrahim, Tgk Daud seorang Purn ABRI. Panggilan akrab kepadanya ialah 'Abu'. Beliau seorang ulama besar, ingin membangunkan 'Aceh Baru' yang 'demokratis, bebas dari penghisapan atau penindasan manusia oleh manusia' (exploitation delhomme par home).

Nama beliau sejajar dengan dua pejuang penyalamat umat dan rakyat Indonesia lainnya, iaitu Mr Sjafruddin Prawiranegara, Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia dan LN Palar, Duta Besar Indonesia di PBB. 

Semasa akhir tahun 1949, Republik Indonesia (RI) ditimpa kritis fatal, di mana hampir seluruh wilayah sudah diduduki Belanda semula. lbukota Republik pun sudah dikuasai penjajah Eropah. Presiden dan wakil Presiden ditangkap Belanda dan dibuang dibuang ke Pulau Bangka. Sjafruddin Prawiranegara sempat diangkat sebagai Kepala (Ketua) Pemerintah RI telah bergegas ke Bukit Tinggi. 

Kerana merasa tidak aman di Bukit Tinggi, beliau mengungsi ke Aceh, yakni sebuah wilayah Republik yang belum mampu dapat diduduki oleh Belanda. Tiga Angkatan mengungsi ke Aceh. Iaitu..
  • Staff Angkatan Darat Kol Hidayat
  • Staff Angkatan Udara Suyoso, dan darat. 
  • Staff Angkatan Laut Komodor Subiyakto. 
Kali pertama pemimpin-pemimpin Aceh ini, terdiri dari Abu Beureueh atau Tgk Daud ini, Tgk Abdul Wahab Seulimum, Hasan Ali dan M. Nur El Ibrahimy (menantu beliau sendiri) berkunjung kepada Mr Sjafruddin Prawiranegara. Mereka menuntut  janji Soekarno semasa datang ke Aceh dua tahun lalu (1947) iaitu mengizinkan pembentukan sebuah Propinsi Aceh.

Soekarno berjanji di depan Abu Beureueh sendiri dan dua kali bersumpah, tetapi ternyata tidak ditunaikan. Masa itu Pak Sjaf (panggilan Syafruddin) menjawab.. "Jangan khawatir, dalam dua tiga hari ini, Propinsi Aceh akan saya bentuk, seperti yang diinginkan oleh rakyat Aceh. Seperti yang dijanjikan."

Maka Propinsi Aceh pun dibentuklah! 

Dibentuklah.. Dengan PP Pengganti Undang-undang mulai berlaku pada 8 Disember 1949. Sebagai Gubernur Aceh pertama, diangkatlah Abu Beureueh. Beliau dibantu oleh sebuah badan yang disebut Badan Pemerintah Provinsi Aceh, terdiri dari T M Amien, Orang Kaya Salamuddin, A.R. Hasjim dan Pak Syaf sendiri.

Di seluruh rakyat Aceh bergembira kerana keinginan sejak lama, kini tercapai. Terbentuknya Provinsi Aceh. Hal ini memberi laluan mudah kepada kepergian Jendral Mayor Tituler, Mantan Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo. Abu Beureueh sebagai Gubernur Aceh penggantinya  terus mengajak rakyat berjuang mati-matian mempertahankan Aceh jangan sampai dapat diduduki Belanda. 

Sebab kalau Aceh dapat diduduki Belanda, bererti tamatlah riwayat Republik Indonesia. Pertarungan sengit antara Aceh-Belanda berpusat di perbatasan Aceh-Sumatera Utara (dikenal Medan Area). Dipertahankan dengan gigih oleh rakyat Aceh bersama TNI Devisi X Aceh, Barisan- Barisan mujahidin pimpinan Abu Beureueh sendiri, TP (Tentara Pelajar) dan TPI (Tentara Pelajar Islam). 

Maka berkat pimpinan solid dari Abu Beureueh, pertahanan rakyat Aceh begitu gigih, dan Medan Area tak dapat ditembusi tentara Belanda. Penjajah akhirnya kembali ke kota Medan. Maka Republik Indonesia yang hampir nazak hidup kembali. LN Palar, Duta Besar RI di PBB yang sebelumnya sudah loyo, menjadi bangkit kembali. Beliau segera meminta mandad dari PBB kembalikan kedaulatan Indonesia Serikat, pada 17 Ogos1950. 

Tapi sayang, perjuangan Islam Aceh/ Indonesia ditipu?

Sayang sekali, tapi bila sudah mula meraih bunga-bunga kejayaan..

Satu: Pada hari upacara penyerahan kembali kedaulatan atas RI kepada Pemerintah Indonesia oleh Belanda, Jendral Mayor Tituler Abu Beureueh atau Tgk Daud yang dianggap salah seorang penyelamat Republik Indoensia tidak diundang ke upacara tersebut.

Dua: Perlu dijelaskan bahawa sebelum penyerahan kedaulatan, di Aceh terjadi heboh besar, kerana dibubarkan Propinsi Aceh. Heboh ini yang mulanya terjadi di Kota Raja (Banda Aceh sekarang) meluas sampai ke seluruh Aceh. Maka dilayangkanlah poster-poster dan resolusi- resolusi kepada pemerintah. 

Heboh ini tidak dapat diatasi hingga terpaksalah pembesar-pembesar Negara dari pusat datang ke Aceh untuk menyenangkan rakyat. Antara lain ialah Mr Assaat (Mendagri), namun rakyat tidak mahu dengar lagi. Maka Bung Hatta yang kembali menjadi Wakil Presiden Negara Kesatuan NRI datang ke Aceh. Tetapi rakyat tetap juga tidak hiraukan.

Tiga: Abu Beureueh Mantan Gubernur Militer Aceh dan Tanah Karo, yang juga mantan  Gubernur Aceh, menyatakan dengan tegas...
  • "Bahwa kalau Provinsi Aceh tidak dibentuk kembali, saya akan naik ke gunung untuk membentuk Provinsi Aceh menurut keinginan kami sendiri". 
Zaini Bakri, Bupati Aceh Besar juga dengan tegas mengatakan kalau provinsi Aceh tidak kembali dibentuk pegawai RI di seluruh Aceh meletakan jabatan.

Empat: Kerana rakyat tidak dapat ditenangkan, Muhammad Natsir (Perdana Menteri Kabinet pertama NRI) datang ke Aceh. Beliau mula-mula mengadakan pertemuan dengan petinggi-petinggi Aceh, kemudian melalui radio. Ia mengajak rakyat supaya tenang dan tidak khawatir. Beliau akan berusaha sekuat tenaga membentuk kembali Propinsi Aceh. 'Secara Intergral', Ertinya membentuk Propinsi di seluruh Indonesia. 

Lima: Betul-betul Natsir telah mengubah situasi panas menjadi suasana sejuk, sehingga rakyat di seluruh Aceh tenang kembali, dan dengan penuh kepercayaan menunggu janji Perdana Menteri Pertama Natsir itu. Tetapi sayang sekali lagi, kabinet Natsir setelah kira-kira satu tahun bekerja, dijatuhkan oleh anggota-anggota DPR (ahli parimen) yang tidak menyetujui Provinsi Aceh iaitu PKI, PNI, Partai Indonesia Raya dan beberapa partai lainnya. 

Apakah ini juga suatu perancangan penipuan musuh-musuh Islam (penjajah) lanjutan dari Perang Salib di Eropah?

Enam: Yang jelas, harapan rakyat Aceh untuk tegaknya sebuah Provinsi seperti yang diinginkan di Tanah Rencong berdasarkan Islam (seperti pemerintahan mengikut Kesultanan Aceh sebelumnya) hancur berkecai.  Semua. Provinsi Aceh baru dibentuk kembali setelah Abu Beureueh 'naik gunung' (sebagai yang ditegaskan di depan Bung Hatta), beberapa waktu setelah jatuhnya Kabinet Ali Sastroamidjojo (dari PNI) yang menggantikan Kabinet Natsir.

Negara Islam Indonesia

Mari kita lihat semasa berkunjung ke Aceh pada tahun 1948, Soekarno mengucapkan janjinya dengan meyakinkan Daud Beureueh. Dimana cerita sumpah Soekarno dihadapan Teungku Muhammad Daud Beureueh itu adalah adalah seperti berikut.. 

["Teungku Daud Beureueh pernah menyatakan: "Lebih setahun sesudah proklamasi kemerdekaan, pada waktu tentara Belanda dan Sekutu sedang melancarkan serangan secara besar-besaran, dimana para pemuda kita sudah ribuan bergelimpangan gugur di medan perang, datanglah Sukarno ke Aceh...Dia datang menjumpai saya menerangkan peristiwa-peristiwa dan perkembangan revolusi." 

Dalam pertemuan itu saya tanya Sukarno: 

"Untuk apa Indonesia merdeka?" Sukarno menjawab: "Untuk Islam kak". Dia memanggil kakak kepada saya. 

Saya tanya lagi, "betulkah ini?". Jawabnya, "betul kak". 

Saya tanya sekali lagi, "betulkah ini?". Dia jawab, "betul kak". 

Saya ulangi lagi, "betulkah ini?".

Pada waktu inilah Sukarno berikrar: "Kakak! Saya adalah seorang Islam. Sekarang kebetulan ditakdirkan Tuhan menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama yang baru kita proklamasikan. Sebagai seorang Islam, saya berjanji dan berikrar bahwa saya sebagai seorang presiden akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana. Saya mohon kepada kakak, demi untuk Islam, demi untuk bangsa kita seluruhnya, marilah kita kerahkan seluruh kekuatan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini".

(Baca: S.S. Djuangga Batubara, Buku; Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureueh Mujahid Teragung di Nusantara, Gerakan Perjuangan & Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, cetakan pertama, 1987, hal. 76-77)]

Ternyata akhirnya, ikrar Soekarno itu untuk: "akan menjadikan Republik Indonesia yang merdeka sebagai negara Islam dimana hukum dan pemerintahan Islam terlaksana" hanyalah tipu muslihat saja. Sehingga Teungku Muhammad Dawud Beureueh di Aceh memaklumkan Negara Islam Indonesia pada 20 September 1953, yang sebahagian isinya menyatakan bahwa;
"Dengan Lahirnja Peroklamasi Negara Islam Indonesia di Atjeh dan daerah sekitarnja, maka lenjaplah kekuasaan Pantja Sila di Atjeh dan daerah sekitarnja, digantikan oleh pemerintah dari Negara Islam."
Ditipu Lagi?
Apakah penipuan ini berlanjutan hingga ke Perjanjian Helsinki selepas tsunami dan hasil rapat tersebut menentukan Hasan Tiro sebagai Wali Nanggroe dan Malek Mahmud Al Haytar sebagai Pemangku Wali Nanggroe, sedangkan tahap Islam masih begitu-begitu juga?

Isya Allah. jika ada kesempatan, kita akan berforam 'peduli Aceh' lagi.. Sekian, wssalam.

Catatan Santai Ibnu Hasyim
alamat: ibnuhasyim@gmail.com  30 Sept  2012
KL

Sila lihat...
E-Buku IH-59: C/Santai (Minda) IH Mulai Jun 2012

E-Buku IH-59: C/Santai (Minda) IH Mulai Jun 2012
 

3 comments:

Anonymous said...

Ass..
1.Saya bukan orang Aceh tetapi benarkah "Aceh itu Islam" spt "Melayu itu Islam?

2. Indonesia adalah negara yang berpotensi untuk menjadi negara Islam jika dibandingkan dengan Malaysia. Malangnya pada pengamatan saya, walaupun Indonesia mempunyai ramai ulama besar, tetapi mereka gagal mempengaruhi pemerintah Indonesia bagi meletakkan Islam ditempat yang sewajarnya. Maka terjadilah perkahwinan berlainan agama atau murtad dan hal-hal yang lain tanpa dikekang oleh kekuatan kekuasaan Islam.
3. Saya pernah bertanya kepada teman Indonesia yang beragama Islam (orangnya solat), Bolehkah Indonesia menghalang perkahwinan berlainan agama?? Jawab teman saya, dia tidak bersetuju kerana mereka sudah biasa dengan aturan hidup begitu. Saya terdiam saja kerana bagi orang Islam Indonesia, bangsa Indonesia lebih penting dari agama Islam itu sendiri.
4. Saya berdoa agar orang Aceh mempunyai kekuatan bagi menegakkan Islam di Indonesia. Bagi saya Indonesia mesti lebih dahulu menjadi negara Islam barulah Malaysia boleh mengikutinya.

Anonymous said...

Setuju dengan anon di atas.

abdrahim kassim said...

SS Djuangga Batubara ialah Pak Suhair

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails