Saturday, January 31, 2009

Qardhawi Mahu Syahid Di Ghazzah, Kita Sertai HAMAS?

As-Syahid syeikh Ahmad Yasin

Prof Dr Yusuf Qardhawi

Ibnu Hasyim: Catatan Santai

AKU berharap diakhir kehidupan ini, aku dapat pergi ke Ghazzah walaupun berada atas kerusi roda. Aku akan menghalakan senjataku kepada israel, kemudian israel akan membalas dengan melontarkan bom kepadaku, akhirnya aku mencapai syahid di bumi Palestin

Ini adalah sedutan ucapan Imam Syeikh Yusuf Qardhawi di Qatar bersama pemimpin tertinggi HAMAS pada 28 Januari 2009 yang bermottokan Ghazzah telah menang. Yang saya petik dari.. http://dupahang.wordpress.com/

Sebenarnya, kematian yang berlaku kepada rakyat Palestin merupakan kematian syahid yang diimpikan oleh setiap umat Islam, seperti juga syeikh tersebut. Sebelum ini, Sheikh Ahmad Yasin pernah di bom oleh tentera Israel. Walaupun Sheikh Ahmad Yasin tidak mempunyai apa-apa kekuatan jasadiyyah, mata beliau yang hampir buta, telinga yang kurang pendengaran, tubuh yang tidak bermaya, suara yang terlampau tidak jelas. Tetapi orang sebegini menimbulkan kegerunan kepada israel. Orang sebegini mampu berjuang sehingga mendapat pahala syahid.

Oleh itu sebagai menyambung pelajaran Jihad dulu di bawah tajuk (Monday, January 19, 2009Pelajaran Jihad Diharamkan Di Seluruh Universiti Islam?), maka diketengahkan pula ‘Keagungan dan Keutamaan Jihad’…

I…Keagungan Jihad di Dalam al-Quran.

Al-Quran telah menempatkan jihad pada urutan yang paling utama diantara ibadah-ibadah yang lain. Al-Quran menyatakan dengan sangat jelas, agar kaum Muslim mencintai Allah dan RasulNya, serta jihad di jalan Allah di atas cintanya kepada yang lain. Allah swt berfirman;

قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

“Katakanlah: “Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.”[Al-Taubah:24]

Al-Quran juga membandingkan perbuatan-perbuatan baik di dalam Islam dengan aktivitas jihad fi sabilillah. Allah swt berfirman:

أَجَعَلْتُمْ سِقَايَةَ الْحَاجِّ وَعِمَارَةَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ كَمَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَجَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَوُونَ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim.”[al-Taubah:19]

Al-Quran juga melebihkan mujahid (orang yang pergi berjihad) di atas orang tidak pergi berjihad. Allah swt berfirman:

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا(95)دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar;(yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Nisaa’ : 95-96]

II…Keutamaan dan Keluhuran Jihad di Dalam Sunnah

Hadits-hadits shahih telah menuturkan keagungan dan keluhuran jihad fi sabilillah di atas amal-amal shaleh yang lain.

1…Jihad Adalah Amal Yang Paling Utama

Di dalam sebuah hadits dituturkan, bahwa Rasulullah saw telah menetapkan kedudukan jihad sebagai amal yang utama dibandingkan dengan amal-amal yang lain, setelah beriman kepada Allah swt. Bahkan, jihad ditempatkan sebagai ra’s al-’amal (pangkal dari amal). Imam Bukhari menuturkan sebuah hadits dari Abu Dzarr ra, bahwasanya ia pernah bertanya kepada Rasulullah saw:

أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ والْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Amal apa yang paling utama? Nabi saw menjawab, “Iman kepada Allah, dan jihad di jalanNya.”[HR. Bukhari] Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, ‘Hadits ini menunjukkan bahwa jihad merupakan amal yang paling utama setelah iman kepada Allah.”

2…Orang Yang Pergi Berjihad Tidak Bisa Ditandingi Oleh Orang Yang Tidak Berangkat Berjihad

Dalam riwayat lain dinyatakan, bahwa kaum Mukmin yang tidak berangkat jihad, meskipun ia berusaha dengan sungguh-sungguh melaksanakan amal kebaikan dan taqwa, dirinya tidak mampu menyamai orang yang pergi ke medan jihad. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, bahwasanya para shahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw:

مَا يَعْدِلُ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ لَا تَسْتَطِيعُونَهُ قَالَ فَأَعَادُوا عَلَيْهِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا كُلُّ ذَلِكَ يَقُولُ لَا تَسْتَطِيعُونَهُ وَقَالَ فِي الثَّالِثَةِ مَثَلُ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ الصَّائِمِ الْقَائِمِ الْقَانِتِ بِآيَاتِ اللَّهِ لَا يَفْتُرُ مِنْ صِيَامٍ وَلَا صَلَاةٍ حَتَّى يَرْجِعَ الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ تَعَالَى

Ya Rasulullah! Amal apa yang bisa menyamai jihad fi sabilillah? Nabi saw bersabda, “Kalian semua tentu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Para shahabat pun mengulangi pertanyaannya dua atau hingga tiga kali, namun setiap diajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw menjawab, “Kalian tidak akan mampu mengerjakannya.” Selanjutnya, pada pertanyaan yang ketiga, beliau saw bersabda, “Perumpamaan seorang mujahid di jalan Allah seperti halnya shaaim (orang yang berpuasa) yang selalu mentaati ayat-ayat Allah, dan ia tidak berhenti dari sholat dan puasanya, hingga mujahid di jalan Allah itu pulang kembali.” [HR. Muslim]

Ini adalah redaksi hadits menurut versi Muslim. Sedangkan menurut versi Imam Bukhari disebutkan, “Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah saw, dan bertanya, “Tunjukkan kepada saya, amal apa yang bisa menyamai jihad? Nabi saw menjawab, “Aku tidak mendapati amal yang bisa menyamai jihad? Kemudian beliau saw bertanya, “Apakah kamu mampu (mengerjakannya), jika seorang mujahid pergi berjihad, lalu kamu masuk ke masjidmu, kamu kerjakan sholat tanpa pernah berhenti, dan kamu kerjakan puasa tanpa pernah berbuka? Kemudian ia berkata, “Lantas, siapa yang mampu mengerjakan hal itu?” Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya, berperangnya seorang mujahid berapapun lamanya, niscaya akan ditulis baginya kebaikan-kebaikan.”[HR. Bukhari]

Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fath al-Baariy menyatakan, “Imam Fudlail bin ‘Iyadl mengatakan, “Hadits ini menjelaskan keagungan jihad. Sebab, puasa dan ibadah-ibadah lain yang telah disebutkan keutamaan-keutamaannya di dalam hadits ini, seluruhnya setara dengan jihad. Bahkan, semua hal mubah yang dilakukan oleh seorang mujahid sebanding dengan pahala orang yang mengerjakan sholat dan ibadah lainnya. Oleh karena itu, Rasulullah saw bersabda, “Kamu tidak akan sanggup mengerjakannya.” Sedangkan keutamaan tidak ditetapkan dengan jalan qiyas, akan tetapi ia adalah ketetapan dari Allah swt kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Hadits ini menjadi bukti, bahwa jihad adalah seutama-utama amal secara mutlak.”

Menurut Imam Nawawiy, hadits ini menunjukkan keagungan dan keutamaan jihad dibandingkan amal yang lain. Sebab, sholat, puasa, serta mentaati ayat-ayat Allah merupakan amal yang utama. Akan tetapi, Allah swt menyetarakan kedudukan seorang mujahid dengan orang yang mengerjakan sholat, puasa, dan mentaati ayat-ayatNya tanpa pernah berhenti –padahal ini tidak mungkin dilakukan oleh seorang manusiapun. Oleh karena itu, hadits ini dengan sangat jelas menunjukkan, bahwa jihad adalah seutama-utama ibadah di sisi Allah swt.

3…Jihad Sebagai Wasilah Menghindarkan Siksa

Sunnah juga menjelaskan bahwa jihad fi sabilillah merupakan wasilah (media) untuk menyelamatkan diri dari api neraka dan siksa kelak di hari kiamat. Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat, bahwa Rasulullah saw bersabda:

مَا اغْبَرَّتْ قَدَمَا عَبْدٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَتَمَسَّهُ النَّارُ

Tidaklah akan dijilat api neraka, debu-debu yang melekat di kaki seorang hamba yang berjihad di jalan Allah.” [HR. Bukhari]

Hadits ini juga menunjukkan keutamaan dan keagungan jihad di jalan Allah swt. Ibnu al-Munayyir menyatakan, bahwa siapa saja yang kakinya berdebu karena berjihad di jalan Allah, niscaya Allah akan haramkan dirinya masuk ke dalam api neraka, baik ia berperang secara langsung maupun tidak. Sebab, debu-debu yang melekat di kaki para mujahid akan menyelamatkan dirinya dari siksa api neraka. Di dalam riwayat lain dinyatakan, “Siapa saja yang kakinya berdebu karena berjihad di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh 1000 tahun perjalanan penunggang kuda yang berjalan cepat. ”[HR. Imam al-Thabarani di dalam al-Ausath].

4…Jihad Dapat Menghapus Dosa

Di riwayat yang lain juga diceritakan mengenai keberkahan jihad fi sabilillah meskipun dilakukan sebentar; yakni dapat menghapus dosa-dosa orang yang melakukannya. Dari Ibnu ‘Aidz diriwayatkan, bahwasanya ia berkata, “Rasulullah saw keluar mendatangi jenazah seorang laki-laki. Ketika jenazah itu diletakkan, ‘Umar bin Khaththab berkata, “Jangan engkau sholatkan Ya Rasulullah! Dia itu orang fajir.” Nabi saw segera menoleh kepada orang banyak dan bertanya, “Apakah ada diantara kalian yang pernah melihat dirinya mengerjakan perbuatan Islamiy? Seorang laki-laki menjawab, “Benar, Ya Rasulullah! Ia pernah menyibukkan diri dalam jihad di jalan Allah di suatu malam.” Nabi saw pun mensholatinya, dan kemudian mengusap jenazah itu dengan tanah, seraya berkata, “Sesungguhnya, shahabatmu menduga engkau termasuk penduduk neraka, akan tetapi aku bersaksi bahwa engkau adalah penduduk surga.”[HR. Imam Baihaqiy di Sya'b al-Iimaan]; dan masih banyak lagi hadits-hadits yang memiliki pengertian yang sama.

5… Kaum Mujahid Adalah Seutama-utama Manusia

Imam Bukhari menuturkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id al-Khudriy, bahwasanya ia berkata:

أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ رَجُلٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Rasulullah saw ditanya, siapakah orang yang mulia (utama)? Beliau menjawab, “Seorang laki-laki yang berjihad di jalan Allah.”[HR. Bukhari]

Hadits ini dengan sharih telah menjelaskan kepada kita, bahwa orang yang berjihad di jalan Allah menduduki tempat yang utama. Kaum salaf al-shaleh sangat memuliakan orang-orang yang dimuliakan Allah swt. Mereka berlomba-lomba untuk memuliakan dan menghormati orang yang berjihad di jalan Allah swt.

Di dalam kitab al-Sair al-Kabiir dituturkan sebuah riwayat dari Mujahid (beliau adalah seorang tabi’in dan termasuk muridnya Ibnu Umar), bahwasanya ia (Mujahid) berkata, “Saya hendak pergi berjihad”. Mendengar ini, Ibnu Umar segera menuntun kudaku!! Aku pun melarang dirinya melakukan hal itu. Namun, ia berkata, “Apakah kamu tidak suka aku mendapatkan pahala? Sungguh, telah sampai berita kepada kami (Ibnu ‘Umar) bahwa orang yang membantu kaum Mujahid, maka kedudukannya diantara penduduk dunia tak ubahnya dengan kedudukan Malaikat Jibril diantara penduduk langit.”

Rujukan:

i…Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 5/149
ii...Al-Hafidz Ibnu Hajar, Fath al-Baariy, juz 5/6
iii..Imam Nawawiy,
Syarah Shahih Muslim, juz 8/ 82-83
iv..al-Hafidz Ibnu Hajar,
Fath al-Baariy, juz 6/29-30
v..
al-Sair al-Kabiir, juz 1/30
vi..Sila lihat…
http://hizbut-tahrir.

Mahukah anda sertai HAMAS sebuah sebuah jamaah yang sedang berjihad mempertahankan Palestin? Mudah sahaja! Sesiapa yang sedang memboikot ( atau 'berpuasa' daripada membeli) produk Amerika dan Israel, orang itu sudah dikira sebagai seorang pejuang/mujahid HAMAS. Tahniah kepada anda yang sedang menganggotai HAMAS! Kepada yang belum, sertai HAMAS hari ini juga. Para peniaga kedai runcit dan kedai makan punya kuasa, gunakan kuasa yang dianugerahkan Allah kepada anda. Jangan ambil stok baru produk-produk AS dan Israel.

Lihat juga dalam blog ini, Tuesday, January 20, 2009 Jenayah: Bunuh Melalui Se Botol Coca-Cola .

Sekian, wallau aklam.

Ibnu Hasyim, catatan santai,
Jan31, 2009. KL.

Sejarah PAS 19: Ekonomi & Negara Kebajikan Menurut Dr Burhanuddin.

1920an di Jalan Gemblongan, Surabaya. Tram letrik, salah satu angkutan umum kota yang penting, tetapi pada 1960an sudah tiada.

IBNU HASYIM: Fokus Sejarah PAS Siri 19

KITA dengar pemimpin-pemimpin yang telah lupa daratan dalam negara ini mengatakan bahawa perjuagan rakyat pada masa ini tidak lagi kerana agama, bahkan perjuangan hendaklah kerana perut.”

Demikian sedutan ucapan dasar Muktamar Agung PAS ke 9 di Kuala Lumpur tahun 1960 yang disampaikan oleh Yang Di Pertuanya Dr Burhanuddin Al-Helmi. Ertinya PAS sudah awal-awal lagi menyedari bahaya meterialisme atau faham kebendaan yang menjadikan benda sebagai matlamat bukan sebagai alat untuk mendaulatkan kesucian agama Islam.

Menurutnya, itulah penyakit yang membusukkan jiwa dan meruntuhkan moral perjuangan mereka. Nilai perjuangan hanyalah menjadi tinggi dan bermutu selama-lamanya dengan berdasarkan membela agama, membetulkan kepincangan politik dan ekonomi yang melingkungi kehidupan umat. Kepentingan rakyat perlu dibetulkan dan kerajaan PERIKATAN telah mengemukakan Rancangan Lima Tahun tetapi masih banyak kepincangannya.

Menurutnya, perkembangan iktisad tidak boleh merombak kewajipan terhadap agama Islam, tetapi kerana kerajaan PERIKATAN tidak memperdulikan nilai, hak dan keadilan menyebabkan mereka terjerumus melakukan beberapa penyelewengan. Kerajaan tidak mempedulikan kemasukan modal asing yang tidak terhingga dan terbatas, kerana perbuatan ini akan mencengkam kembali kuku penjajahan ekonomi orang asing kepada negara dan rakyat hanyalah menjadi kuli kepada mereka, sedangkan perkembangan ekonomi tergendala dan tertekan.

Indah khabar dari rupa dalam kempen-kempen dan kerja-kerja kerajaan yang tidak berasas serta tetap untuk memajukan ekonomi rakyat. Ini kerana kerajaan masih lagi tunduk kepada orang asing, kepentingan puak pemodal sahaja dipelihara, yang didapati oleh rakyat hanyalah janji khidmat cakap sedang mata dan telinga melihat dan mendengar, yang maju dan mewah adalah orang asing.’ Maka, ‘…berhamburanlah abu dan debu yang mengelirukan mata rakyat yang dialunkan oleh angin yang timbul dari janji-janji kerajaan itu.’ Demikian menurut Dr Burhanuddin lagi.

Dalam muktamar yang ke 10 beliau menekankan, apa yang telah dibuat oleh kerajaan untuk kepentingan orang Melayu dan kemana riuhnya? ‘Seolah-olah dunia Tanah Melayu bertukar menjadi sebuah dunia lain, orang-orang yang dulunya menderita kini menjadi manusia yang berpendapatan lebih dari RM300, seperti kata Menteri Pembangunan Luar Bandar. Sendiwara riuh rendah ini sudahpun dikenal oleh rakyat…’

PAS mahu Kerajaan Persekutuan sedar, bahawa apa yang dipentingkan oleh rakyat pada masa itu ialah usaha yang bersungguh-sungguh supaya dapat menambah hasil pendapatan rakyat tiap-tiap bulan, dengan menyusun rancangan ekonomi yang sesuai dengan kehendak kehidupan rakyat. Tetapi tanda-tanda yang jelas nyata menunjukkan kerajaan tidak akan dapat melakukannya selagi masih mementingkan orang kaya, orang besar dan kapitalis-kapitalis luar negara.

Beliau mencabar Kerajaan Persekutuan supaya mengenepikan cara-cara pro kapitalis ‘dengan member lebih banyak perhatian di lapangan perekonomian secara berkecil-kecil dari rakyat.’ Beliau mahu menjadikan negara makmur yang ditegakkan oleh rakyat dan dapat dinikmati oleh rakyat. Itulah negara kebajikan menurutnya.

Dalam ucapan dasar Muktamar Agung ke 11, beliau mensifatkan pemimpin-pemimpin UMNO telah menjual hak Melayu dalam negara. ‘UMNO Pak Kaduk, menang sorak kampung tergadai’, ‘mereka inilah orang-orang yang menjerit seperti naga tetapi berjalan seperti semut, yang dikatakan oleh Prof Engku Abdul Aziz’, menjawab jajaan Tun Abdul Razak yang mengatakan negara ini telah makmur. Alangkah pedihnya tamparan tajam dari pakar ekonomi orang kampung itu yang mendedahkan ‘masih tiadak ada kemakmuran kepada orang kampung’.

Kasihan, Jelas Dr Burhanuddin. Mereka terpedaya oleh igauan sendiri dengan berpegang kepada pengakuan pakar-pakar luar yang datang ke negeri ini dan merayau sekejap untuk memberi pujian, yang mereka hanya tahu melihat kertasnya sahaja. Berkenaan kekacauan antara pekerja keretapi dengan majikan waktu itu beliau merumuskan, bahawa itu menandakan kelamahan kerajaan di dalam menghargai titik peluh orang lain. Banyak lagi golongan perjawatan kerajaan yang sedang menunjukkan minat mereka untuk bertindak seperti itu, membuktikan ketidak percayaan mereka kepada kesaksamaan pentadbiran Kerajaan Perikatan.

Kerana tidak ingin berlakunya kekacauan yang boleh menyusahkan rakyat negara ini, maka PAS menuntut kerajaan Persekutan Tanah Melayu memberikan layanan yang baik kepada pihak-pihak yang terniaya dalam negara. Kezaliman politik dan penindasan ekonomi tidak boleh dibiarkan, walaupun yang tertindas berdiam diri. Kerana penindasan seperti itu akan melumpuhkan ekonomi negara dan mewujudkan satu susunan masyarakat yang tidak dseimbang.

Beliau menafikan kejayaan Rancangan Kemajuan Luar Bandar kerajaan PERIKATAN dan menegaskan keseluruhannya merupakan perkhidmatan yang belum dapat menambah secara langsung pendapatan rakyat. Beliau mahu satu rancangan yang terus memberikan peluang menambah pendapatan rakyat dengan tidak payah menunggu giliran atau masa yang panjang berhasilnya rancangan tersebut. Wang yang ditaburkan kepada rakyat hendaklah dirancang dengan teratur, memberikan keutamaan layanan untuk kepentingan rakyat.

Bukan memberikan perkhidmatan kepada rakyat setelah ternyata tidak berlawanan dengan kepentingan orang tengah atau kaum-kaum pemodal besar. Beliau menegaskan, rakyat patut diberitahu bahawa kerajaan PERIKATAN telahpun memberi cuti daripada membayar cukai oleh syarikat-syarikat besar dalam negara. Diberikan taraf perintis selama lima tahun dan tidak dikawal secara berkesan kemasukan barangan, walaupun kemasukan tersebut berlawanan dengan kepentingan ekonomi rakyat kecil di dalam negara.

Syarikat kerjasama rakyat telah dicerobohi daerah perniagaannya oleh kaum pemodal kapitalis, sehingga syarikat tersebut lumpuh ditekan oleh pemodal-pemodal dari semua penjuru dengan tiada kawalan undang-undang kepada kepentingan mereka. Itulah yang dikatakan kerajaan PERIKATAN tidak jujur dalam rancangan ekonominya kerana mementingkan cukai yang banyak walaupun dengan memeras rakyat. Oleh itu beliau menyarankan agar rakyat mendukung diri dan dengan tangannya sendiri, dibantu oleh kerajaan dalam menjalankan usaha-usaha keperluan hidupnya.

Beliau melihat dari sudut Islam, yang masa keseluruhan rakyat sesebuah negara adalah mendapat perhatian dan layanan sesuai dengan kedaulatan Islam dan pemeluk-pemeluknya. Di dalam negara Islam, pembangunan rakyat hendaklah diatur dengan memberikan perimbangan kedudukan dan kesederhanaan sikap terutama dalam penyelenggaraan ekonomi negara. Kesan-kesan pembangunan ‘ekonomi mementingkan diri dan satu golongan sahaja’ dengan tidak mengindahkan kesan buruk kepada pihak lain, adalah menjadi unsur penting yang telah membawa penyakit-penyakit masyarakat.

Islam berkehendakkan peluang dan penggalakan ekonomi yang baik dan mempunyai moral untuk dikecapi oleh semua golongan masing-masing, menurut kesanggupan dan kebolehannya. Beliau mengkritik pengutamaan pengembangan ekonomi di Tanah Melayu yang ternyata sebagai satu pengembangan sahaja, dengan tidak memikirkan bahawa perkembangan itu menekan atau membantutkan kebangkitan ekonomi rakyat. Apa yang dibuat ialah menampal kelemahan ekonomi rakyat dengan memberikan khidmat-khidmat kecil kepada mereka. Maka rakyat sentiasa bersifat bergantung kepada orang lain.

Mereka terpaksa bersifat demikian kerana tidak memberikan peluang dan bantuan kepadanya bagi menghapuskan sifat-sifat kemelaratan hidup tersebut. Beliau menyebut bahawa Rasulullah SAW telah menunjukkan satu contoh pengajaran ekonomi yang mesti dijalankan oleh sesebuah negara. Apabila bertemu dengan seorang peminta sedekah di tepi jalan Raslullah telah bertanya, kenapa engkau tidak berkerja? Orang itu menjawab dengan mengatakan, apa guna berkerja kerana aku tiada sesuatupun alat untuk melaksanakannya.

Baginda terus mengambil tikar tempat duduk orang itu, disuruhnya jual dengan harga satu dirham, kemudian dimintanya daripada Saidina Abu Bakar satu dirham lagi supaya dapat dibelikan sebilah kapak untuk bekerja. Dengan itu tidaklah lagi orang itu meminta sedekah. Begitulah halnya dengan orang-orang miskin di negara ini, menurut Dr Burhanuddin lagi. Mereka perlukan bantuan untuk mula berjalan. Itulah yang mesti dilaksana dan disamakan dalam pembangunan ekonomi. Tetapi selagi kerajaan tidak tegas mengutamakan yang ramai dan miskin, maka selama itulah keadaan hidup rakyat negara ini tidak dapat dibetulkan.

Suatu penyusunan pandangan hidup dan perancangan ekonomi menurut keadaan waktu itu perlu dibuat supaya tiap-tiap individu rakyat memiliki sesuatu walaupun sedikit. Itu lebih berguna kepadanya dalam ertikata ekonomi, daripada merancacang sesuatu ‘bagi beberapa orang atau beribu orang yang pindah dan dikumpulkan sahaja’, tidaklah dapat menyelesaikan kesulitan mereka yang sedikit mempunyai modal hidup tetapi tidak teratur. Beliau berpendapat bahawa, tiada satu perancangan kemajuan akan dapat dijalankan di kalangan rakyat miskin dalam negara, melainkan dengan mengawal perkembangan ekonomi mereka daripada orang-orang yang menekan, menindas dan memeras unsur-unsur ekonomi tersebut.

Penindasan seperti itu adalah membunuh kepercayaan kepada pemangunan ekonomi di kalangan rakyat. Rasa tamak dan haloba yang ada pada manusia, hanya dapat dibatas dengan undang-undang, bukan dengan mengenakan cukai sahaja. Beliau menyarankan hendaklah dibuat undang-undang yang tegas dan berkesan bagi mencegah monopoli dan pemerasan ekonomi di beberapa peringkat. Menggalakkan kerja-kerja yang dijalankan terutama dalam sesuatu bidang khusus, hendaklah dijadikan asas pekerjaan. Syarikat kerjasama pembeli, pengguna-pengguna dan orang tengah perlu mengambil formula penyelesaian dan jawapan menurut cara Islam.

Semangat gotong-royong yang telah dipusakai sejak dulu dan masih dijalankan di beberapa tempat, hendaklah dijadikan asas hidup di dalam masyarakat, tetapi bukanlah seperti yang dibuat oleh kerajaan ‘bergotong-royong kerana hendak memurahkan belanja tetapi boros pada tempat yang lain’. Menurutnya, dalam sesebuah negara yang berdasarkan Islam, kewibawaan moral dan nilai kemanusiaan dalam ekonomi adalah penting. Bukanlah asal dapat benda dan matawang sahaja maka sesuatu perancangan ekonomi itu baik, tetapi kesan terhadap orang lain dan diri manusia itu sendiri mesti diperhitungkan.

Masyarakat kapitalis yang timbul dari dasar ekonomi bebas dibawa oleh penjajah dan sedang dianjurkan oleh kerajaan membawa bersama pegangan hidup ‘asal untung sahaja’ mestilah dikawal bersungguh-sungguh. Menegakkan kemajuan ekonomi di atas keruntuhan moral adalah merupakan satu yang bahaya kepada orang Islam dan bukan Islam. Ianya dapat dibetulkan dengan menjalankan dasar ekonomi sederhana, menghasilkan sama suatu perimbangan kebendaan dan moral yang dipentingkan oleh masyarakat sesuatu negara.

Beliau juga memberi amaran supaya jangan diulangi sejarah buruk negara ini menanggung hutang seribu juta ringgit, kerana mahu berlagak sebagai negara baru merdeka yang berjaya maju. Begitu juga langkah membanggakan kilang-kilang besar dan sebagainya, tetapi dipunyai oleh orang lain, sedangkan rakyat hanya menjadi kuli sahaja. Baginya, perlu kepada pengambilan tenaga dan modal yang ada pada rakyat di dalam negara, bagi memajukan diri rakyat sendiri, jika tidak maka akan terikatlah leher rakyat dengan cengkaman ekonomi yang merupakan satu penjajahan merbahaya sesudah penjajahan politik.

Mengajar rakyat berdiri sendiri, supaya membuat sendiri dengan kemahuan sendiri, hendaklah dimulakan oleh negara. Kalau negara dibentuk untuk berlagak sahaja seperti pada waktu itu, maka rakyatnya pun akan terbentuk sebagai berlagak tetapi tidak berisi. Beliau merumuskan bahawa Islam mempunyai formula atau cara-cara menghadapi masalah-masalah moden yang menjadi problem masyarakat samada di lapangan politik atau ekonomi. Beliau membaca firman Allah SWT bermaksud:

Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agama kamu dan Aku cukupkan bagimu nikmat Ku dan Aku redha Islam sebagai ad-deen bagimu.”

Dalam ucapan dasar Muktamar Agung PAS ke 12 tahun 1964, beliau menekankan tentang kelemahan orang Islam mengamalkan seluruh cara hidup yang merangkumi politik, ekonomi dan social mengikut ajaran Islam. Itulah yang menyebabkan banyak kekayaan yang ada di negara-negara umat Islam itu terlepas dari tangan orang Islam sendiri. Kuasa-kuasa bukan Islamlah yang mengaut kekayaan dan membina anika rupa kemajuan dengan kekayaan yang diambil oleh mereka dari negara umat Islam.

Bukan itu sahaja menurut beliau, dengan kekayaan yang diambil oleh kuasa-kuasa besar, mereka secara langsung atau tidak langsung telah berusaha pula menyalakan api permusuhan terhadap Islam.

Friday, January 30, 2009

Zionis Melayu Di Indonesia, Siapa Di Malaysia?

UN chief expresses anger over "unacceptable" Israeli raids on its buildings.

Ibnu Hasyim: Catatan Santai

MAJALAH ‘Sabili Januari 2009’ Indonesia menyifatkan beberapa individu ini adalah ‘Zionis Melayu’ yang secara diam-diam menjadikan Israel sebagai kawan. Antaranya adalah:

1..Abdul Rahman Wahid (Gusdur), mantan Presiden.Republik Indonesia

a) Mei 2008, beliau ke Amerika untuk memenuhi undangan Shimon Wiesenthal Center (SWC) untuk menerima penghargaan The Jewish Medal of Valor. Dalam majlis tersebut, beliau turut menyatakan ikut serta merayakan Hari Kemerdekaan Israel, sebuah hari dimana bangsa Palestin dibantai secara membabi buta dan diusir dari tanah air. Anugerah medal diterima kerana beliau dilihat sebagai sahabat paling setia dan berani terang-terangan menjadi pelindung Zionis-Yahudi dunia disebuah Negara majority Muslim terbesar seperti Indonesia.

b) 12 Jun 2007, dalam sebuah konferensi bertema Holocaust di Bali pada hari Selasa, Gusdur juga membela Holocaust. Beliau menyebut, Indonesia seharusnya mengakui Negara Israel.

2) Goenawan Mohamad, pendokong Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) (Islam Liberal)

a) 2006, beliau menerima penghargaan ‘Dan David Prize’ dan wang langsung bernilai US250.000 di Tel Aviv.

b) Beberapa tokoh AKKBB adalah mereka yang termasuk orang-orang yang merelakan diri menjadi pengikut kepentingan Zionisme Internasional.

3) Delegasi Perdamaian Indonesia dari Yayasan Lab for All, sebuah yayasan swasta berasal dari AS yang bertujuan untuk memerangi kelompok Islam yang menurut mereka ‘garis keras’.

a) 08 Dis 2007, lima orang anggota delegasi ini menemui Shimon Peres (ketika itu Pres.Israel) berpusat di Jerusalem. Yayasan Lab for All mempromosikan Islam yang bersekutu dengan Zionis Israel dan Gusdur pelindungnya. Pertemuan ini dilakukan salah satunya bertujuan dalam rangka memperingati 60 tahun berdirinya Israel di bumi Palestin. C.Holland Taylor, pimpinan Yayasan Lab for All mengatakan, Gusdur pernah mengeluarkan sikap yang menolak dan menentang HAMAS dalam isu Palestin.

b) Paling menyedihkan, aktivis Muhammadiyyah, Syafiq Mughni menyatakan kepada Shimon Peres, “ kita berharap suatu waktu Muslim Indonesia boleh bersikap lebih toleran dan mengutamakan demokrasi. Hal ini boleh dilakukan antara lain melalui jalur pendidikan untuk mengubah mental Muslim Indonesia agar lebih bersikap terbuka”. Maksudnya agar Muslim Indonesia boleh menerima Israel sebagai sekutu.

4) Aktivis Muhammadiyyah.

a) Media Israel mendedahkan bahawa Prof.Aryono Pusponegoro dan Dr.Sudibyo Markus sebagai wakil pertubuhan Muhammadiyyah turut menandatangani kerjasama dan persetujuan dengan organisasi Kesihatan Israel, Magen David Adom (MDA).

5) Pejabat Tinggi Pemerintah Negara

a) Ketua Kadin (Perdagangan) Pusat, secara rasmi melakukan hubungan bisnes dengan pejabat Kadin Israel.

b) Tentera Nasional Indonesia (TNI), diisyaratkan pernah melakukan pembelian sejumlah senjata api jenis senapang sniper seperti Galil-Galatz produk Israeli Military Industries (IMI) beberapa tahun lalu.

c) Tenaga-tenaga medis Indonesia dikirim ke Israel dalam rangka pelatihan Intersive Care Unit (ICU). Bahkan, banyak peralatan ICU yang ada dirumah sakit di Indonesia dibeli dari Israel – didedahkan oleh seorang doctor bedah Indonesia.

6) Ulil Abshar Abdalla, coordinator Jaringan Islam Liberal (JIL)

a).Beliau menganggap aksi-aksi demonstrasi membantah Israel di Indonesia hanya diikuti oleh sebahagian kecil dari umat Islam di Indonesia. Bahkan mereka yang tidak ikut serta dalam aksi ini tidak boleh menggambarkan seluruh keseragaman umat Islam yang ada di Jakarta. “Ini menggambarkan bahawa mereka yang bersemangat mengangkat isu Palestin itu bukan dari kelompok Islam arus utama seperti Nahdhatul Ulama (NU), Muhammadiyyah, Al-Irsyad, Al-Washiliyyah, Persis dan lain-lain. Ada kecenderungan bahawa isu Palestin menjadi semacam identity yang membezakan antara kelompok dengan kelompok lain dalam umat Islam”.

Catatan: Teori Ulil Abshar terbantah kerana hari ini bukan sahaja kelompok Islam yang melakukan aksi solidarity Palestin, tapi seluruh elemen bahkan seluruh dunia melintasi agama.

7) Mohammad Gontor Ramli, tokoh JIL dan pendokong AKKBB

a).Dalam tulisannya beliau menyebut sama seperti ucapan Menteri Luar AS, Condoleeza Rice yang menuduh HAMAS punca penyerbuan Israel ke Ghazzah.

“Kita juga menjumpai adanya kemunduran pada posisi HAMAS yang menguasai jalur Gaza saat ini, yang beberapa tahun sebelum ini menjanjikan harapan dan perubahan bagi dunia internasional dengan mengikuti pilihanraya dan meninggalkan pendekatan senjata dalam menyelesaikan konflik dengan Israel. Namun, kerana perpecahan dalaman di Palestin khususnya HAMAS dan FATAH, HAMAS seolah-olah kembali ke habitatnya (angkat senjata). Masa depan, Hamas perlu kembali kepada jalur jihad diplomasi dan perundingan untuk meraih dukungan dunia internasional”. - Harian Ibu Kota, terbitan Jakarta 31 Dis 08.

8) Siti Musdah Mulia, tokoh JIL

a) 2009, ketika Front Pembela Islam (FPI) membuka pendaftaran untuk jihad ke Palestin, beliau memperli FPI dengan menyebut “salah satu bentuk sikap sinis kita kepada kelompok Islam yang ingin mengirimkan relawan jihadnya ke Palestin adalah menderma darah untuk Palestin”. – ucapan di Taman Menteng, Jakarta, program Mimbar 1000 Harapan: Doa Untuk Munir dan Korban Perang di Gaza.

9) Luthfi Assyaukanie, tokoh JIL

a).Beliau mengunjungi Israel dan melaporkan dalam facebook:

“ saya baru sahaja melakukan perjalanan ke Israel. Banyak hal berkesan yang saya peroleh dari negeri itu, dari soal kota tua yang kecil namun penuh memori konflik dan darah, Tel Aviv yang cantik dan eksotis, hingga keramahan orang-orang Israel. Saya kira siapa pun yang menjalani pengalaman seperti saya, akan mengubah pandangannya terhadap Israel dan orang-orangnya”.

“ Kecerdasan orang-orang Israel diatas rata-rata manusia. Ini bukan sekadar mitos yang biasa kita dengar. Setiap 2 orang Israel yang saya jumpai, ada 3 yang cerdas. Mungkin ini yang menjelaskan kenapa bangsa Arab yang berlipat jumlahnya itu tidak pernah boleh menandingi Israel”.

“Orang-orang Israel akan membela setiap jengkal tanah mereka yang bangunkan dari bumi yang tandus menjadi sepotong syurga. Bahawa mereka punya alasan sejarah untuk melakukan itu, itu adalah hal lain. Pembangunan bangsa seperti kata Benedict Anderson, tidak banyak terkait dengan masa silam, ia lebih banyak terkait dengan kesedaran untuk menyatukan sebuah komunitas. Bangsa Yahudi melalui doktrin Zionisme telah melakukan itu dengan baik”.

Catatan: Masih banyak catatan dari beliau seperti pengakuannya masuk secara bebas ke sinagog (tempat sembahan Yahudi) untuk merayu kepada tuhan ditembok ratapan dan keluar masuk gereja, memuji-muji Israel yang orang-orangnya cenderung bersahabat.

Makluman: Nama-nama tokoh JIL ini anda boleh rujuk pada arkib blog ini dalam bulan Disember tentang JIL untuk mengetahui sedikit biografi dan latarbelakang pengajian mereka – penulis. Website http://islamlib.com/id/

Menurut penulis blog http://arruhuljadid86.blogspot.com/ “…disebalik isu Ghazzah, umat Islam tidak akan lupa satu tragedy besar yang menimpa seorang ulama Islam di Arab Saudi, Sheikh ‘Awad Al-Qarni. Beliau ditangkap oleh penguasa Arab Saudi semata-mata mengeluarkan fatwa agar kaum muslimin di Arab Saudi membela Palestin. Polis Arab Saudi menangkapnya tanpa sedikit penjelasan pun. Dalam masa yang sama, seorang ulama Saudi, Sheikh Shalih Al-Luhaidan, pemimpin tertinggi Majlis Al-Qadha, Arab Saudi mencetus kontroversi dengan mengeluarkan fatwa yang sangat menyakitkan umat Islam. ‘Bahawa demonstrasi mendukung Palestin adalah perbuatan fasad fil ‘ard (kerosakan diatas muka bumi)’. Subhanallah! Allahu Akbar ! Apa yang sedang terjadi ini?”

Menurut penulis blog itu lagi, ketika Ghazzah diserang, pemimpin Arab Saudi yang dianggap golongan ‘paling kuat’ Ahlussunnah dan penegak Daulah Islam Saudi entah hilang kemana. Yang pasti, setiap kali bertemu pemimpin Amerika, pelukan erat dan senyum tidak bersalah sering dipaparkan saat Ghazzah dibom dahsyat. Selepas selesai sebentar peperangan, maka keluarlah kenyataan, “kita akan hantar bantuan segera, kewangan dan ubat-ubatan”.

Kalau hal itu terjadi di luar negara ada zionis Melayu atau zionis Saudi, bagaimana pula di Malaysia? Siapa dan apa pula kegiatannya. Adakah Jaringan Islam Liberal (JIL) di sini? Kita bimbang kalau-kalau dalam Pakatan Rakyat pun ada! Mari sama-sama berjaga-jaga dan siasat!!

Sekian, wallau aklam.

Ibnu Hasyim, catatan santai,
Jan30, 2009. KL.

Mencari Saudara Islam Di Kunming..


Artikel Utusan pada Jumaat, 30 Januari 2009:
Sila baca artikel ini di sini

Sejarah PAS 18: Ke Mana PAS Pimpinan Dr Burhanuddin?

IBNU HASYIM: Fokus Sejarah PAS Siri 18

ADA kalangan pengkaji politik membahagikan kepada 4 bentuk kepimpinan yang dilalui oleh PAS sepanjang beberapa dekad ini.

Pertama: Kepimpinan ulama tradisi, iaitu zaman Tuan Haji Ahmad Fuad 1951-1953 dan Dr Abbas Alias 1954-1956.

Kedua: Kepimpinan nasionalis kiri, iaitu zaman Dr Burhanuddin Al-Helmi 1956-1969.

Ketiga: Kepimpinan nasionalis kanan, iaitu zaman kepimpinan Datu8k Asri Haji Muda 1969-1982.

Keempat: Kepimpinan ulama haraki, bermula dengan Tuan Haji Yusuf Abdullah Ar-Rawi 1982-1989, Ustaz Fadzil Muhammad Noor 1989-2002 dan Haji Abdul Hadi Awang sekarang.

Soalnya sekarang, apakah benar PAS di bawah kepimpinan Dr Burhanuddin adalah kepimpinan nasionalis kiri? Dr Burhanuddin diterima menjadi ahli PAS pada 14 Disember 1956 dan terus menjadi Yang Di Pertua PAS dalam muktamar ke 5 PAS pada 25 Disember 1956 di tengah-tengah amaran dari perwakilan supaya tidak lari dari perjuangan Islam seperti yang termaktub dalam undang-undang tubuh PAS. Beliau menjadi ahli PAS masa itu, di saat PAS merupakan parti pembangkang terkuat. UMNO,MCA dan MIC di dalam PERIKATAN , raja-raja Melayu serta kerajaan British sedang menjalankan usaha-usaha perundingan untuk kemerdekaan Tanah Melayu.

Jadi, persoalan waktu itu, bukanlah persoalan kemerdekaan, tetapi bagaimana corak kemerdekaan yang perlu diisi? PAS melalui Yang Di Pertuanya Dr Burhanuddin mengemukakan alternative terbaik yang sangat sesuai waktu itu, di dalam Muktamar Agung ke 6 pada 24 Ogos 1957, berbunyi:

“… bahawa dasar pokok perjuangan kita ialah kemerdekaan yang penuh:
1..Kebangsaan negeri ini mestilah Melayu.

2..Mestilah diakui bahawa bangsa Melayu adalah tuan punya negeri ini.

3..Untuk membina satu bahasa, satu negara dan satu bangsa yang teguh, hanya diakui bahasa Melayu sahaja jadi bahasa resmi dan bahasa kebangsaan yang tunggal di negeri ini.

4..Islam menjadi agama rasmi dalam ertikata yang betul pada ajaran Al-Quran dan Sunnah nubuwwah.
5..Menentang dasar jus soli diberikan kepada orang yang bukan Bumuputera negeri ini, dan orang yang bukan Melayu yang hendak menjadi rakyat negeri ini hendaklah dengan permintaan yang diluluskan oleh undang-undang yang mengawal keselamatan wujudnya bangsa Melayu dan dicurahkan dengan orang-orang dagang ke negeri ini oleh open door policy.”

Dalam ucapan dasar Muktamar Agung PAS ke 10 di Alor Setar Kedah tahun 1961, beliau menyentuh tentang pembentukan sebuah negara ‘Melayu Raya’ iaitu masalah kenegaraan yang sedang hebat diperbincangkan. Suasana politik tanah air sedang ditumpukan kepada pembentukan sebuah persekutuan negara, lebih besar dari keadaan yang sedia ada pada waktu itu.

Menurut beliau, perkataan ‘Melayu Raya’ sebenarnya bukanlah perkataan yang baru, tetapi ianya telah ditimbulkan oleh tokoh-tokoh perjuangan negara sejak puluhan tahunyang lalu. Cuma bentuknya sahaja yang berlainan. Melayu Raya yang akan dibentuk waktu itu adalah bersifat kecil dan sempit ‘yang amat disetujui oleh penjajah’ dan amat digemari ‘oleh golongan-golongan yang nyata mempunyai kepentingan ekonomi dan politik untuk dirinya sendiri’, ‘didokongi juga oleh golongan ahli-ahli politik dalam negara ini yang tidak menyedari akan bahaya-bahaya besar yang akan timbul daripada yang mereka dokong itu’.

Menurutnya lagi, gagasan Persekutuan Melayu Raya itu hendaklah meliputi seluruh Gugusan Pulau-pulau Melayu termasuk Indonesia dan Filipina. Kerana ‘itulah sahaja yang mampu menyelamatkan Islam, khasnya di Tanah Melayu ini dan umumnya bangsa Melayu Raya, daripada dijadikan sebagai buah dadu permainan politik sahaja oleh lain-lain kuasa yang berkepentingan sendiri’. ‘Itulah sahaja yang boleh menjadikan kita satu umat yang besar, berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, berjalan sama gagah dengan yang lain-lain.’

Muktamar Agung Khas diadakan pada bulan Oktober 1961 telah memutuskan sikap atas bentuk negara Melayu Raya yang dipersetujui termasuk Indonesia dan Filipina. Katanya:

Kita tidak dapat mempersetujui konsep Melayu Raya yang sempit hanya melingkungi Tanah Melayu, Singapura, Sarawak, Brunei dan Sabah sahaja… akan kita perjuangkan terus menerus dan masalah ini akan saya kemukakan ke dalam Majlis Dewan Rakyat yang bersidang pada bulan Januari ini.”

Muktamar Agung Khas itu juga memutuskan bahawa PAS tidak dapat menerima percantuman dengan Singapura disebabkan oleh keadaan politik yang meliputi Pulau Singapura waktu itu, bukan kerana sejarah, kedudukan geografi atau kebudayaan hidup. ‘Perhitungan politik’ itu ada hubungan dengan dasar besar PAS, iaitu menjaga kepentingan hak kedudukan rakyat negara ini dalam semua langkah dan rancangan politik.

Menurutnya lagi, membutakan mata dari perhitungan politik akan membawa umat ke lembah kehancuran. Seperti yang sedang berlaku dan sama-sama dapat dilihat dengan amalan-amalan kerosakan parti PERIKATAN. Sehingga kini ‘Persekutuan Tanah Melayu telah menjadi tempat bagi kehancuran umat Islam sendiri di dalam kedudukan politik’. Kataanya lagi:

Menimbang ini semuanya dan menginsafi akibat-akibat yang akan melibatkan keturunan kita pada masa yang akan dating, maka di dalam menghadapi soal percantuman dengan Singapura ini. PAS hanya nampak dengan adanya rancangan negara Melayu Raya yang sungguh-sungguh besar itu sahajalah, hal itu dapat dilakukan dengan baik.

Muktamar Agung ke 11 yang diadakan di Bandar Melaka pada tahun 1962, dalam ucapan dasar PAS beliau mengatakan rasa tidak setujunya samada mereka mengaku atau tidak bahawa langkah Kerajaan Persekutuan Tanah Melayu untuk membentuk ‘Malaysia’, ‘telah berpijak di atas kaki orang lain sehingga menyinggung Indonesia’. Ianya mesti dipandang berat dan PAS tidak ingin berlanjutan sebab boleh menguntungkan pihak Inggeris dan Amerika. Boleh jadi Rusia dan China Komunis sedang ketawa kecil melihat ‘kegentingan’ ini.

Perhubungan dengan Filipina juga mungkin tersentuh mengenai Sabah. Paling pahit sekali jika berlakunya tentangan bersenjata terhadap Malaysia secara berlarutan. Perdana Menteri Persekutuan Tanah Melayu yang menyokong penjajahan di Brunei mengatakan bahawa apa yang berlaku di Brunei itu tidak ada hubungannya dengan penubuhan Malaysia, tetapi PAS memandang masalah ini mempunyai hubungan langsung dengan percubaan ‘memaksakan Malaysia’ kepada rakyat Brunei. Dr Burhanuddin juga mengatakan:

PAS telahpun mengatakan tidak setujunya dengan konsep Malaysia Perdana Menteri itu! Kepada Perdana Menteri, kita ingatkan, jangan dipaksa penerimaan Malaysia itu ke atas sesiapapun yang tidak mahu kepadanya, sebabnya akan merupakan suatu kezaliman politik yang mempunyai akibatnya di belakang hari kelak.

Demikianlah pandangan PAS di bawah pimpinan Dr Burhanuddin tentang kebangsaan Melayu dan pengisian kemerdekaan, gagasan Melayu Raya, sikap terhadap percantuman dengan Singapura dan penubuhan ‘Malaysia’. Kita lihat pula sikap PAS terhadap ekonomi dan iktisad.

Penemuan Ajaib, Rawat Dunia Dengan Sampah, Jimatkan Wang?

Ibnu Hasyim Catatan Santai

RAWAT dunia? Ya! “Sampah dari dapur anda mampu membawa keajaiban. Kulit buah, lebihan sayur dan bahan yang anda gunakan untuk memasak atau makan, adalah kuncinya. Tukarkan ia kepada enzim dan anda dapat merawat dunia,” ujar seorang pengamal perubatan alternatif homeopati, Dr. Joean Oon (lihat gambarnya di sebelah).

Formulanya? Oo, mudah. Penapaian sampah dari dapur anda dapat menghasilkan gas ozon yang diperlukan untuk memulihkan cuaca bumi.

Bagaimana berlaku? Ia bermula dari hari pertama anda memerap atau menapai sisa makanan organik. Proses katalisnya sudah mula membebaskan gas ozon. Molekul itu kemudiannya bertindak balas dengan gas karbon dioksida dalam lapisan atmosfera serta logam berat yang memerangkap haba di dalam awan. Sekali gus haba dapat dibebaskan dari muka bumi, mengurangkan kesan rumah hijau dan pemanasan global. Pada masa yang sama, garam nitrat dan karbonat terbentuk.

Kedua-dua elemen ini dapat membantu menyuburkan tanah dan menjadi hormon serta nutrien semula jadi kepada tumbuhan. Enzim pula secara amnya diketahui dapat menggalakkan atau mempercepatkan proses kimia. Jadi penggunaannya dalam sungai yang dicemari minyak atau bahan kimia didapati berjaya merungkaikan ikatan kompleks bahan kimia tersebut dan seterusnya menjernihkan airnya.

Biarpun masih belum dapat membuktikannya melalui ujian makmal, banyak keajaiban telah disaksikan hasil usaha Dr Joean, ibu kepada tiga orang anak itu. Itulah ilmu yang dipelajari beliau daripada seorang pensyarah dan doktor dalam perubatan alternatif di Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong.

Ilmu ini mula mendapat perhatian dan kini memperoleh permintaan sehingga ke beberapa negara di rantau Asia Tenggara termasuk Singapura, Thailand, Indonesia dan Brunei. Lihat di Malaysia, contohnya, menurut beliau…

i…Pokok naga di sebuah ladang di Seremban yang disembur enzim sayur-sayuran dan buah-buahan dapat mengeluarkan sehingga 40 biji buah dari sebatang pokok, sedangkan pokok naga pekebun lain hanya dapat mengeluarkan maksimum 10 biji. Perbezaannya ialah empat kali ganda.

ii..Seorang wanita yang mempunyai 60 pasu pokok bunga orkid pernah merungut pokok yang ditanam sukar untuk berbunga, tetapi selepas menyembur enzim yang dihasilkan sendiri, bunga berkembang sehingga 60 peratus lebih banyak tanpa bantuan baja herbisid.

Demikian tentang kebaikan enzim kepada bidang agro. Menurutnya lagi, hal ini tidak melibatkan kos besar, enzim dihasilkan hanya memerlukan apa yang ada di dapur anda. Perapkan bersama gula perang, sisa makanan dan air pada nisbah 1: 3: 10 dalam bekas tertutup dan tunggu selepas tiga bulan. Enzim yang terhasil akan melakukan magik untuk anda.

iii.Pengusaha restoran yang sebelum ini mempunyai masalah lalat yang banyak di kawasannya sekarang dapat berniaga dengan tenang selepas dia mengelap meja menggunakan enzim yang dihasilkan sendiri.

Beliau tidak menolak sangkaan ramai bahawa penapaian akan menghasilkan bau teruk, wartawan Kosmo Ahad beberapa bulan lepas diberi peluang menghidu enzim yang dihasilkan dan nyata ia tidak seteruk disangkakan. Tambahan pula penapaian dilakukan dalam bekas kedap udara.

“Setiap kali kita melintas tong atau longgokan sampah, kita akan terhidu bau masam yang busuk. Itulah gas metana. Apabila ia dibebaskan ke udara, ia membentuk gas karbon dioksida yang memerangkap sehingga 21 peratus haba berbanding keupayaan gas karbon dioksida. Jadi, bayangkan apa yang sedang kita lakukan semasa kita membuang sampah,” usul anak kelahiran Tanjung Bungah, Pulau Pinang ini.

Itulah suatu contoh keindahan dan keajaiban alam ciptaan yang Maha Pencipta, sesuatu yang disangka tidak baik, rupa terselindung sesuatu yang baik. Sesuatu yang disangka terbazir, rupanya boleh menjimatkan wang bagi mengelakkan pembaziran. Anda boleh cuba sendiri!

(Rujuk:
fatiminadiah.zainudeen@kosmo.com.my
atau wan salmah )

Sekian, wallau aklam.

Ibnu Hasyim, catatan santai,
Jan30, 2009, KL.

Thursday, January 29, 2009

Cerpen Ribut Salji Di Tashkent..

Ibnu Hasyim: Catatan Santai

SUDAH tiga cerpan saya persembahkan dalam blog ini, termasuk cerpen ini.. Pertama… Thursday, December 18, 2008 Himbauan Cerpen Ke Guangzhou.. berjudul Eksploit 2 Versi’ Oleh Ummu Hani Abu Hassan. Kedua…‘Kisah Pilot F16, Muslimat Pertama di USAoleh Ulfah Mardhiah Siregar Annida dalam Monday, October 27, 2008 Hadiahku Untuk Deepavali.. Ketiga… cerpen ini yang bertajuk ‘Ribut Salji Di Tashkent..’ Oleh Hafizah Iszahanid. Begini kisahnya…

"RAYA ni saya balik. Ya... saya balik... mak tunggu. Lagi empat hari... ya… mak... mak… isshhh!”

Sayup-sayup Ann mendengar suara emak menjawab ya. Tapi, Ann hanya mendengar emak menyebut ya berkali-kali dan selebihnya, Ann tidak mendengar apa-apa lagi. Talian jadi sangat bising tiba-tiba dan akhirnya terputus.

Ann mendongak ke langit. Ada helikopter palang merah antarabangsa merentasi awan, mengganggu transmisi. Telefon satelit Ann genggam kuat, hati marah benar. Sukarnya untuk berhubung pada waktu-waktu begini.

Ann mengatur langkah masuk ke bangunan tiga tingkat di tengah Tashkent. Bangunan ini menjadi ibu pejabat Pertubuhan Islam Antarabangsa. Tingkat satu menjadi lokasi memberi bantuan perubatan dan makanan, tingkat dua menjadi gudang menyimpan stok makanan dan ubat-ubatan dan tingkat tiga menampung lebih 20 sukarelawan.

Bilik Ann di tingkat tiga paling kanan. Di tepinya ada pokok tua yang agam. Pokoknya sudah kehilangan daun dan dibalut putih salji yang tebal.

Ya, salji tebal sejak semalam. Musim dingin ini baru bermula. Namun, sudah dua kali Ann tidak dapat lena kerana ribut salji. Kalau dibanding taufan Ike atau Katrina, ribut salji yang ini bukanlah apa-apa. Sekurang-kurangnya, pihak kaji cuaca belum mengisytiharkan darurat.

Namun, Ann terganggu benar dengan bunyi angin yang kuat. Ann terasa seluruh Tashkent ini seakan runtuh, seperti mana ia sudah pun runtuh selama dalam cengkaman Kesatuan Soviet.

Hari sudah cerah, sudah jam 7 pagi dan Ann masih belum bersahur. Sejak ribut salji melanda jam tiga pagi tadi, sejak Ann tersentak daripada mimpi jam tiga pagi tadi, Ann tidak boleh menyambung tidur hingga kini.

Anehnya Ann juga tidak berselera makan. Sisa sup berbuka tadi sudah dipanaskan dan roti sudah dipotong-potong kecil. Tapi Ann hanya memandang, selera tidak bangkit. Sebaliknya, ingatan menjurus-jurus pada sambal ikan bilis bercampur tempe dan acar buah yang kerap emak hidangkan waktu bersahur.

Ingatan itu rupanya membunuh selera Ann!

Kelmarin juga Ann tidak bersahur. Hanya minum segelas susu. Perut seakan masih sendat dengan makanan tradisional Uzbekistan pilav, nasi dengan daging goreng, lobak merah dan bawang merah bercampur kismis dan kacang pea yang Ann nikmati waktu berbuka puasa.

“Teruja hendak balik kampung, sampai tak nak makan,” Dr Landau, sukarelawan dari Perancis selalu mengusik. Ann sengih. Bukan dia sengaja, tetapi sungguh dia tidak berselera untuk makan.

Setiap kali mengingatkan 1 Syawal yang bakal dirai di kampung halaman, dadanya bergetar kuat menahan keterujaan. Setiap kali memandang beg pakaian yang sudah siap dikemaskan, dadanya berdebar hebat dan setiap kali mencium-cium tiket penerbangan yang akan membawanya pulang, jantungnya seakan berhenti berdegup. Gembira, dia terlalu gembira.

Malah sejak seminggu lalu, Ann bukan saja sudah mengemas pakaian yang akan dibawa pulang, tapi sudah juga mengemas gambar-gambar yang akan ditunjukkan pada saudara mara. Untuk emak, Ann sudah bungkuskan selendang panjang tenunan Uzbekistan yang cantik.

Pada perbualan minggu lalu dengan emak Ann sudah berpesan, lemang dan rendang kita bakar sama-sama malam sebelum raya. Ann mahu sama-sama menebang buluh, membersihkannya, mengukur kelapa, memerah santan, memasukkan pulut dalam buluh dan membakarnya. Ann juga ingin mengait daun kelapa, mahu menjalinkannya menjadi sarung ketupat yang cantik beranyam.

Ann tersengih sendiri. Waktu ini terasa hanya jasad saja berada di bumi Uzbekistan yang muram Ramadannya dan gersang Aidilfitrinya. Seluruh jiwa seakan sudah lama terbang menyeberang laut, kembali dalam dakapan emak.

Di luar, ada perbualan dalam bahasa Turki dan Inggeris, yang diselang seli gelak ketawa singgah di telinga. Ada bunyi ngauman enjin juga kuat memecah pagi Ann bangun meninjau.

Dari jendela Ann lihat ada sukarelawan yang memandu jentera penyodok salji, membuka jalan yang tersekat. Ada sukarelawan yang mengalihkan ranting dan dahan pokok yang bersepah kawasan persekitaran. Ann menyentap baju panas dalam almari dan turun menyertai mereka.

Tashkent selepas bebas daripada Kesatuan Soviet bukanlah seindah dijangka. Walaupun sudah merdeka, kerana terlalu lama dicengkam komunisme, menjadikan bukan saja Tashkent, tetapi seluruh Uzbekistan ini jauh daripada penghayatan dan kefahaman tentang Islam.

“Kamu ini aneh, orang mahu kerja pejabat hawa dingin dan gaji ribuan ringgit, kamu hendak jadi sukarelawan,”

Ya, waktu kawan-kawan sekursus memilih menjadi ahli ekonomi atau berkhidmat di bank-bank perdagangan sebaik tamat pengajian, Ann memilih ke Tashkent. Seluruh keluarga menjerit membantah, malah kekasih hati yang berjanji sehidup semati juga meninggalkan Ann kerana Ann mahu ke Tashkent.

Namun, waktu orang lain tidak pun memberi sokongan, emak mewajarkan pilihan Ann menyumbang bakti di Uzbekistan.

“Siapa lagi yang mahu memulihkan jati diri saudara seagama kalau bukan kita sendiri? Mahu terus Uzbekistan hanyut? Sudah lama dicengkam Soviet, sekarang sudah merdeka, apa salah kita tolong? Tak banyak, sikit pun, sekadar ajar anak-anak mereka mengenal huruf alif, ba dan ta, dan mengakui Tuhan itu satu pun, sudah bermakna,”

“Tapi emak, Ann itu perempuan. Ha, kau hendak pergi berapa tahun? Sanggup kautinggalkan emak sendiri? Nanti sanggup kau hendak berhari raya dengan orang Uzbekistan. Menangislah seorang diri. Elok-elok duduk di Malaysia, hendak pergi negara lepas perang,” abang tidak penat melemahkan semangat.

Ann masih ingat renungan mata emak tepat dalam mata bundar abang. Merenung mata itu, Ann dapat menyingkap seluruh amarah yang emak simpan.

“Emak boleh membesarkan kamu semua sendirian selepas ayah kamu meninggal waktu Ann dalam pantang. Emak masih boleh hidup tenang dan kuat. Adakah kamu fikir Ann tidak mewarisi kekuatan emak? Lagi pun, Aidilfitri itu akan lebih bermakna, jika kita bijak memaknakannya, tidak kira kita di mana,”

Abang dan kakak terdiam. Abang ipar dan kakak ipar tergamam. Walau mereka mengomel di belakang, Ann berangkat juga ke Tashkent, dua bulan selepas itu atas restu emak.

Dan, jangkaan emak benar-benar menyambut Ann di Tashkent. Jangkaan tentang Islam yang suram di Uzbekistan. Jangkaan tentang Islam yang kurang penghayatannya di negara Asia Tengah itu.

Sejak kecil, emak sangat terpesona dengan kisah Laluan Sutera yang merentas Uzbekistan di Tashkent, Bukhara dan Samarkand. Kata emak, kegemilangan Islam di Uzbekistan dulu, dalam kelas tersendiri. Di situ, lahirnya dua tokoh Islam masyhur, al-Khawarizmi dan Abu Rayan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni.

Namun, semua kegemilangan Uzbekistan itu terpadam sebaik dicengkam kuat Kesatuan Soviet. Masyarakat mengenal al- Khawarizmi dan al-Biruni tanpa mengenal Uzbekistan. Ann seakan-akan terdengar emak bercerita. Emak, seorang guru sejarah tingkatan enam di sekolah berhampiran rumah.

Lalu, ketika Ann melahirkan hasrat menyertai Pertubuhan Islam Antarabangsa sebagai sukarelawan di Tashkent, Uzbekistan, emak mewajarkan walau hampir seluruh keluarga membangkang. Kata emak, walau tubuhnya tidak sampai ke Tashkent, jiwa emak sudah ada di sana melalui kamu, kamu Ann.

Lalu Ann tahu, pemergian ke Tashkent sebenarnya bukan saja membawa dirinya sendiri dan amanat seluruh umat Islam yang mahu melihat Uzbekistan bangun dan menghidupkan kembali kegemilangan lalunya, tetapi jua membawa hasrat dan jiwa emak yang terlalu lama berahi pada sejarah kehebatan Uzbekistan.

Sejarah Asia Tengah di bawah Kesatuan Soviet adalah sejarah penuh eksploitasi, kerap emak mengulang-ulang ayat itu. Malah seingat Ann, emak pernah bercerita, Stalin yang takut dengan kuasa minoriti di Kesatuan Soviet menghimpunkan pelbagai etnik di Uzbekistan untuk melemahkan dan menekan populasi asal. Stalin juga mahu Uzbekistan bergantung secara ekonominya dengan Russia.

Ann menghirup udara Tashkent sebaik saja Uzbekistan bebas daripada Kesatuan Soviet. Awalnya, Ann tidak tahu apa-apa tentang Uzbekistan. Ann hanya tahu tentang Uzbekistan daripada kisah-kisah yang emak khabarkan dan serba sedikit pembacaan. Justeru, Ann kurang bijak meneka percaturan politik di Uzbekistan. Seingat Ann, dia ada menulis surat kepada emak tiga bulan selepas sampai di Tashkent.

Mak,

Saya tidak faham percaturan politik di sini. Waktu kita berlumba-lumba datang menabur bakti di negaranya, mereka berlumba-lumba pula menjadi hero.

Selepas bebas daripada Kesatuan Soviet, Uzbekistan menggubal perundangan baru, tetapi mengharamkan parti pembangkang utamanya, Birlik. Bebas daripada kesatuan Soviet juga tidak bermakna mereka bersatu hati, sebaliknya semakin banyak pula siri keganasan pada kumpulan yang dituduh pelampau Islam.

Mungkin 70 tahun dicengkam komunisme, mereka gagal membezakan antara agama dan budaya. Jadi, semua penganut Islam yang mahu kembali pada amalan agama, bertudung, menyimpan jambang dan berjubah itu dianggap pelampau agama.

Tapi surat itu tidak emak balas, entah mengapa.

Salji tebal di hadapan bangunan sudah habis disodok. Beberapa sukarelawan bersiap dengan pikap, bersedia untuk masuk ke kampung-kampung kecil di utara Tashkent. Malam ini mereka mahu berkampung di sana, berbuka puasa dengan penduduknya dan bersolat tarawih. Ann juga akan mengikut.

Tiga tahun di Tashkent, sudah tiga Aidilfitri Ann raikan di sini. Aidilfitri yang gersang dan suram. Cukuplah, tahun ini, Ann akan pulang. Ann tidak rela meraikan Aidilfitri tanpa perasaan. Perasaan kasih dan sayang sesama insan. Ann akan pulang empat hari lagi sebenarnya. Aidilfitri bakal menjelang 1 Oktober nanti, Ann akan pulang 29 September nanti.

Tidak sabar rasanya mahu menikmati lemang dan rendang. Tidak sabar rasanya mencium tangan emak. Terbayang-bayang Kuala Lumpur, terasa-rasa hentakan punggung di kerusi pesawat waktu kapal terbang mendarat. Ann tersengih pada setiap ingatan-ingatan itu. Oh... Tashkent... aku tidak rindu padamu Aidilfitri nanti, Ann tersengih sendiri.

Di sini, Aidilfitri dan Ramadan seakan tiada maknanya. Pada mereka, ia hanya sahur, berbuka puasa dan solat sunat Aidilfitri. Tiada kunjung mengunjung tiada maaf bermaafan. Semuanya kering dan kontang. Tiada rasa dan waktu-waktu begitu, tiba-tiba Ann jadi terlalu nostalgia dan melankolik pula, teringat beratur panjang, menanti giliran mencium tangan emak di pagi Aidilfitri.

Ann masih ingat Aidilfitri pertama di sini, solat sunat raya berlangsung sebaik selesai solat Subuh kerana kebanyakan mereka pengikut mazhab Hanafi. Ann terkejut dan tentunya nyaris terlepas kenikmatan solat sunat raya!

“Kami meraikan Navrus pada 1 Januari, musim bunga pertama bukan Aidilfitri,” kata-kata itu datang daripada seorang warga tempatan, Ana Karimov.

Ann meminjamkan telinga untuk Ana Karimov bercerita tentang keistimewaan Navrus. Ann tidak berminat untuk berdebat mengenai keistimewaan Aidilfitri dengannya. Biarlah, dia masih terlalu hijau dalam mengenal keistimewaan Ramadan dan Syawal. Ann maafkan dia, atas alasan terkurung selama 70 tahun dalam Soviet.

Kenderaan pikap yang akan membawa Ann dan enam sukarelawan yang lain ke utara Tashkent sudah penuh dengan muatan. Tapi waktu hendak bertolak, angin bertiup dengan kencang.

“Ribut salji!,” Ann panik.

1 Oktober

Mak,

Selepas tiga tahun tidak pulang raya bersama dan kali ini saya gagal lagi untuk menunaikan janji. Ketahuilah mak hati saya tidak pernah tenang. Doa saya untuk mengucup tangan emak pada pagi Aidilfitri tidak tertunai jua.

Seperti emak kata, Tuhan berikan apa yang kita perlu bukan apa yang kita mahu. Saya terima semuanya mak, walau dalam linang air mata.

Penerbangan keluar masuk di Lapangan Terbang Tashkent dibatalkan sejak dua hari lalu. Kata mereka mungkin dalam tiga atau empat hari nanti ia akan pulih. Apabila sudah terlalu lama berada dalam dakap Soviet, waktu-waktu nanar begini, mencari-cari jalan keluar sendiri, memang memakan masa. Saya maafkan mereka kerana ribut salji ini kehendak Tuhan jua adanya. Walaupun saya masih terkial-kial memaafkan diri sendiri kerana gagal mengotakan janji bersama emak pada Aidilfitri.

Sejak, dua hari lalu ribut salji belum berhenti. Malah anginnya makin kencang, melebihi dua kali ganda taufan.

Mak, saya tidak tahu bilakah surat ini akan tiba ke pangkuan emak. Saya hanya menulis dan menulis meluahkan seluruh gundah dan segala resah. Buat masa ini, sistem pengangkutan dan komunikasi di Tashkent lumpuh sama sekali. Bekalan elektrik sudah dua hari terputus. Salji tebal di Tashkent sudah menjadi ais setebal dua meter.

Kelmarin perintah berkurung dan darurat diisytiharkan. Tetapi saya dan beberapa sukarelawan lain mengikut pasukan tentera memberi pertolongan kepada penduduk di kawasan pedalaman .

Waktu-waktu sukar begini, saya menyaksikan sudah ramai yang tahu untung nasib perlu diadukan kepada Allah yang berkuasa. Saya melihat darurat dan perintah berkurung tidak menghalang mereka membanjiri masjid dan muazin melaungkan azan.

Waktu takbir bergema di langit Tashkent yang diserkup salji, saya terasa satu kenikmatan yang sukar diceritakan dengan kata-kata menusuk dalam hati. Ia sangat indah, melebihi keindahan percikan warna warni bunga api yang menghias gelap langit. Ia kemudiannya bagai api, memanaskan hati setiap warga Tashkent, mencairkan perasaan yang beku lewat makna Aidilfitri.

Untuk pertama kalinya emak, saya terasa sangat teruja solat sunat Aidilfitri sebaik tamat solat Subuh. Sejuk yang menikam, salji yang tebal, angin yang kencang tidak sedikitpun mematahkan semangat Muslim di sini berhari raya.

Terkurung dalam masjid sementara menanti kenderaan tentera membawa kami pulang ke kediaman masing-masing. Kami sempat bersalam-salaman dan bermaaf-maafan. Kami sempat berdakapan sesama Muslimah, menangisi pemergian Ramadan. Kami sempat menjamah roti, sup dan pilav.

Entah mengapa kali ini saya merasakan Aidilfitri di Tashkent sungguh menyentuh hati. Ia membakar seluruh kerinduan saya pada kampung halaman. Walau langit Tashkent mendung dan buminya tebal bersalji, ada magis dalam setiap hati kami. Seperti emak percaya, saya juga kini percaya, Aidilfitri itu akan lebih bermakna jika kita bijak memaknakannya.

Emak, terima kasih kerana mewajarkan saya ke sini, empat tahun lalu.

Biodata Penulis..

HAFIZAH Iszahanid, lulusan Sarjana Muda Seni Gunaan dari Universiti Malaysia Sarawak pada 2000. Mula menulis karya kreatif pada usia 16 tahun dan pernah menyertai Minggu Penulis Remaja kelolaan DBP. Kembali aktif dalam penulisan kreatif kebelakangan ini dengan beberapa cerpen mendapat tempat dalam pelbagai majalah seperti Nur, Jelita, Wanita dan Dewan Sastera. Sudah menghasilkan dua novel, Noktah di Hujung Rindu (2005) terbitan Marshall Cavendish dan yang baru menjengah pasaran, Kala Hujan Menitis, terbitan Buku Prima.

Diangkat dari web http://www.bharian.com.my/Current_News/BH/Saturday/Sastera/20081004053610/Article/print_html

Sekian, wallau aklam.

Sesiapa yang ingin melancung ke Uzbekistan, sila klik gambar di iklan sebelah ‘Universiti Kehidupan - Kembara ke Uzbekistan Bersama Ustaz Amin’.

Ibnu Hasyim, catatan santai,
Jan29, 2009. KL.

Wednesday, January 28, 2009

Misteri Tembuk Masjid Ulughbek, Uzbekistan..


Ibnu Hasyim: Catatan Santai

“DI ANTARA sedikit wajah Islam yang 'direstui' oleh pemerintah Uzbekistan, adalah ajaran tassawuf, atau Sufisme, yang dibawa oleh tuan guru Bahauddin Naqshband Bukhari.” Kata seorang pengembara dari Jawa Timur Indonesia Agustinus Wibowo yang sedang mengembara melalui jalan darat melintasi 5 negara Asia Tengah pada Mei tahun lepas semasa berada di Usbekistan.

Di negara majoriti penduduk Muslim ini, rupanya agama Islam menjadi hal yang sangat sensitif, katanya lagi. Kini dia sedang berada di Pakistan, belum pulang-pulang lagi sejak memulakan perjalananya dari stesyen keretapi Beijing pada 31 Julai 2005, selepas tamat belajar di Fakulti Komputer Universiti Tshinghua, Beijing, antara unversiti terkenal di China.

Saya teringat suatu hari di sebuah teksi antar kota, saya asyik membaca buku tentang pergerakan fundamentalis Islam di Lembah Ferghana, ditulis oleh seorang jurnalis dari Pakistan. Kebetulan penumpang yang duduk di sebelah saya adalah polisi (anggota polis), penasaran ingin tahu isi buku yang sejak tadi menyedot perhatian saya. Dia terloncat kaget ketika membaca nama-nama yang ‘tidak baik' (baginya), seperti Harakatul Islami Uzbekistan, Hizbut-Tahir, dan Taleqan Juma Namangani, buronan nomer satu pemerintah Tashkent yang sempat membikin ribut negara-negara Asia Tengah karena gerakan garis keras bawah tanahnya.

Dalam sekejap, polisi yang semula akrab itu berubah sikap. Setelah menanyai ini itu, dia diam seribu bahasa sepanjang perjalanan. Mungkin dia sibuk mengira-ngira apakah saya ini kawan atau ancaman nasional. Saya juga ingat betul, di kesempatan lain ketika saya melintas perbatasan Uzbekistan dari Turkmenistan, tas saya digeledah dengan teliti. Kebetulan saya membawa buku-buku pelajaran bahasa Arab dan sejarah Persia. Saya tidak tahu bahwa buku-buku bertulis huruf Arab bisa jadi masalah di sini.” Ceritanya terus.

"Kamu bawa buku agama Islam?"

Itu cuma buku pelajaran, bukan buku agama!” Dia jawab sambil menggeleng.

Keadaan jadi gawat bila padanya ada buku berjudul Taliban, tulisan jurnalis Ahmed Rashid, tentang sejarah pergerakan Taliban di Afghanistan. Setelah pemeriksaan ketat hampir satu jam, baru dia diizinkan melewatinya. Pemerintah Uzbekistan memang sangat sensitif terhadap apa-apa yang berbau 'garis keras' itu.

Kawannya juga bercerita, dulu di Lembah Ferghana, waktu zaman hebuh-hebuh gerakan Harakatul Islami dan Hizbut Tahir, cuma gara-gara berjanggut pun akan ditangkap polis. Dia disuruh berjaga-jaga supaya tidak mempamirkan photonya sedang sholat di Pasar Ferghana kerana takutkan polis. Seolah-olah salah sholat di tempat umum..

Di Tashkent yang sangat kosmopolitan pula, kisah-kisah tentang Harakatul Islami dari Ferghana yang ingin mendirikan negara Islam seperti cerita dari dunia lain saja lagaknya, tak ramai ambil tahu. Bahkan di Bukhara, yang boleh dikatakan paling Islami di antara kota-kota Uzbekistan pada umumnya, kehidupan sangat damai dan tenang, jauh dari bayang-bayang kekerasan. Pelancung-pelancung terus berdatangan, restoran-restoran baru bermunculan, dan bahkan sudah ada kelab disco bawah tanah di kota kuno Bukhara. Tidak semua Islamisasi mendapat lampu merah dari pemerintah Tashkent.

Tengok saja desa Kasri Orifon, sekitar 12 kilometer dari Bukhara, yang kini menjadi salah satu tempat berziarah terpenting di sini. Sebuah bangunan megah berdiri, dengan arsitektur khas Parsi, gerbang dewan yang berbentuk persegi bersambung dengan tembok panjang mengelilingi bangunan utama. Di pintu masuk, sebuah prasasti berbunyi:

Bohauddin Nakshband's Architectural Complex was Re-created and Restored with Initiative of the First President of the Republic of Uzbekistan Islam Karimov, October 2003.

Presiden Islam Karimov, tak lain dan tak bukan, adalah presiden sendiri yang merasmikan bangunan peristirahatan bagi seorang tokoh Islam terpenting, Bahauddin Naqshbandi, pendiri tarekah Naqshbandiyah, tarekah sufi terbesar di Asia Tengah. Pemerintah Uzbekistan kemudian menjadikan ajaran Sufi Naqshbandi sebagai bukti pelaksanaan kebebasan beragama, sebagai teladan pelaksanaan agama Islam yang sejuk dan damai. Islam di Asia Tengah punya suasan berbeda dengan Islam di Timur Tengah.

Di sini, ajaran Sufi begitu kuat, sehingga agama berharmonisasi dengan budaya dan tradisi. Orang pun payah nak beda mana yang Islam, mana yang budaya. Seperti kata Shokir seorang tukang kasut yang pernah mengingatkannya… "Agama kami mengatakan, kalau tidur perlu pakai seluar panjang. Kalau tidak, haram hukumnya."

Memasuki pemakaman Naqshbandi, perlu langkah kaki kiri lebih dulu. Di bahagian pelantar ada batang pokok yang sudah tumbang. Kata orang, pokok ini hidup bersama-sama tuan guru dan perjalanan hidup pokok ini sama seperti perjalanan hidup Naqshbandi. Beberapa orang nenek dari desa nampak berbaris mengelilingi batang pokok yang terbujur melintang ini berlawanan arah jarum jam. Di salah satu sudutnya, batang pohon membujur sangat rendah, hampir mencapai tanah. Sehingga orang yang sedang 'berupacara' mengelilingi pohon terpaksa membongkok nyaris merayap.

Semua percaya, kelilingi batang pokok tiga kali akan membawa nasib baik, dan merupakan seremoni wajib dalam acara ziarah ke makam Naqshbandi. Sederet bangku panjang di depan bangunan penuh diduduki oleh peziarah. Laki-laki dan perempuan duduk bersama-sama, tidak dipisah. Seorang imam komat-kamit pembaca doa, peziarah bersama-sama menengadahkan tangan, dan berseru "Amin!" menutup doa. Kemudian mereka berebutan mendapatkan air penawar dengan botol kosong yang dibawa masing-masing.

Demikianlah agama sudah bercampur dengan mistik, kepercayaan, dan tradisi tempatan. Konon, itulah keunikan Islam di Asia Tengah. Lorong-lorong kota kuno Bukhara meliuk-liuk bak labirin. Warna coklat menyelimuti bangunan tua, membawa eksotisme dunia seribu satu malam. Ratusan madrasah, masjid, hamam, bazaar, semuanya berukuran fantastik, bertabur di seluruh sudut kota. Sebahagian besar sudah berubah fungsi menjadi tempat pedagang menawarkan cendera hati, atau muzium kraf tangan.

Di antara puluhan bangunan besar itu, dia terdampar di Madrasah Abdul Aziz Khan. Berhadapan dengan Madrasah Ulughbek, bangunan kuno berarsitektur Persia itu, sekarang sudah berubah fungsi menjadi toko-toko kraf tangan. Seorang ibu Tajik, yang gembira sekali berjumpa dengannya yang dari Indonesia, menghadiahkan satu kemeja tradisional Bukhara. Nipis hampir transperan, berhias sulaman-sulaman benang merah yang cantik.

"Ikut saya," ajak ibu bertubuh subur dan bergigi emas itu, "Ada suatu kejutan buat kamu!"

Dibawanya ke sebuah ruangan gelap. Ruangan ini berdinding putih, di ujungnya ada mihrab. Di sebelah kiri kanan mihrab, seperti biasanya model arsitektur masjid di sini, ada ornamen berupa lekuk-lekuk di dinding. Nampaknya macam tak ada yang istimewa. Ibu Tajik tadi menyalakan lampu suluhnya ke arah sudut dinding itu. Ajaib, dalam gelap yang disinari pancaran lampu itu lekuk-lekuk tadi berubah wujud. Sebuah wajah seram tergambar di sudut tembok itu. Lelaki berjanggut lebat dan berserban, seakan terkekeh-kekeh melihat terkejutnya dia.

"Beliau adalah Abdul Aziz Khan," Kata ibu tadi, "Pendiri madrasah ini!"

Kerana menurut mereka, Islam melarang mengambil foto makhluk bernyawa, guru yang ingin dirinya tetap dikenang, menyembunyikan fotonya dalam lekuk-lekuk di sudut tembok, adalah satu teknik khas yang hanya dapat dilihat dengan cara yang khas pula. Sebuah wajah penuh misteri tersembunyi dalam heningnya dalam kehidupan beragama di Uzbekistan ini.

Sekian, wallau aklam.

Sesiapa yang ingin melancung ke Uzbekistan, sila klik gambar di iklan sebelah ‘Universiti Kehidupan - Kembara ke Uzbekistan Bersama Ustaz Amin’.

Ibnu Hasyim, catatan santai,
Jan28, 2009. KL.